08 October 2020, 20:40 WIB

Pemprov Jabar Waspadai Dampak Kejiwaan Pandemi Covid-19


Bayu Anggoro | Nusantara

PANDEMI korona berdampak juga terhadap kesehatan mental masyarakat. Berdasarkan survei Puslitbangkes Kemenkes pada 2020, sekitar 6,8% masyarakat Indonesia mengalami gangguan cemas.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, pihaknya sudah mengantisipasi akan persoalan tambahan tersebut dengan menyiapkan krisis center di Rumah Sakit Jiwa Jawa Barat yang berada di Kabupaten Bandung Barat, dan Graha Atma di Bandung. Nantinya, krisis center itu berfungsi sebagai respons cepat kegawatdaruratan jiwa seperti potensi bunuh diri yang diakibatkan masa pandemi ini.

"Selain krisis center, kami juga meluncurkan program Konsultasi Jiwa Online (KJOL) sebagai jawaban atas meningkatnya permasalahan kejiwaan di tengah pandemi covid-19," kata Emil. Dia menjelaskan, terdapat beberapa hal yang menyebabkan kesehatan masyarakat terganggu di tengah pandemi ini.

Beberapa di antaranya informasi bohong, stigma, sampai tingginya angka kematian karena covid-19. "nformasi ketidakjelasan kapan situasi pandemi akan berakhir, belum hadirnya vaksin, isu isolasi sosial, stigma, kehilangan pekerjaan, perubahan cara belajar mengajar, dan tingginya juga kekerasan rumah tangga sebagai dampak terjadinya perceraian itu adalah sesuatu yang tidak bisa kita sepelekan," katanya.

Dia mengatakan, hoaks soal pandemi dapat membuat takut dan meningkatkan kecemasan masyarakat. Sehingga, kedewasaan masyarakat dalam memanfaatkan media sosial harus terus dikampanyekan.

"Hari ini masalahnya bukan mencari informasi, tapi memilah informasi. Maka, situasi berita negatif tentu harus kita kontrol," ucapnya.

Selain itu, pembelajaran jarak jauh membuat peserta didik dan orangtua stres, terlebih jika terkendala konektivitas internet. "Juga pada anak-anak ada sistem yang mengharuskan menjalani pendidikan di rumah atau jarak jauh. Ini juga membuat stres kepada anak dan orang tua apalagi keterbatasan internet dan lainnya. Sungguh sangat memprihatinkan," katanya.

Direktur Utama RSJ Jawa Barat Elly Marliyani mengatakan, ada peningkatan durasi penggunaan gawai selama pandemi. Berdasarkan penelitian RSCM FK UI di bulan April-Juni 2020, terjadi peningkatan waktu rata-rata penggunaan gawai hingga 11,6 jam per hari dan peningkatan kecanduan internet pada remaja sebesar 19,3%.

Kondisi itu berpotensi menyebabkan stres bagi orang tua maupun anak. "Terbukti sejak pandemi, terjadi peningkatan kunjungan pasien gangguan cemas di RSJ sampai dengan September 2020 sebanyak 14% dibandingkan bulan yang sama pada tahun 2019," kata Elly.

Menurut Elly, program KJOL diciptakan agar masyarakat dapat berkonsultasi secara virtual dengan psikiater atau psikolog. Selain itu, screening melalui situs pun dapat dilakukan, seperti screening kesehatan jiwa, kecanduan gadget, deteksi dini bunuh diri, dan tes lainnya. "Sehingga diharapkan masyarakat paham pentingnya kesehatan jiwa, sadar sejak dini kesehatan jiwa adalah investasi," katanya. (OL-13)

Baca Juga: Kemampuan Beradaptasi Dibutuhkan Dalam Kondisi saat Ini

 

BERITA TERKAIT