08 October 2020, 16:24 WIB

Akibat Pandemi, Kerugian Dunia Capai US$15 Triliun


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

MENTERI Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut dunia mengalami kerugian hingga US$15 triliun akibat pandemi covid-19.

Kondisi itu menyebabkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia terkoreksi 5% pada tahun ini.

"Kerugian dan biaya covid-19 di seluruh dunia diperkirakan US$9-15 triliun. Ini setara 9 atau bahkan 15 kali ukuran ekonomi Indonesia. Suatu dampak yang begitu dahsyat dalam waktu kurang enam bulan," ujar Ani, sapaan akrabnya, di hadapan Majelis Hakim Konstitusi, Kamis (8/10).

Baca juga: Geliat Pariwisata Bisa Cegah Pelambatan Ekonomi Berkelanjutan

Pandemi covid-19 menimbulkan kepanikan di sektor keuangan global. Tecermin periode Maret dan Mei dengan arus modal keluar yang begitu deras dari negara berkembang. Di Indonesia, lanjut dia, arus modal keluar mencapai Rp140 triliun dalam tempo singkat.

Keluarnya arus modal menyebabkan gejolak di pasar surat berharga, pasar valuta asing dan anjloknya indeks saham. Merosotnya kegiatan ekonomi akibat pandemi melahirkan kepanikan luar biasa. Serta, mengancam keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.

"Ancaman jumlah pengangguran dan kemiskinan di semua negara meningkat tajam dalam waktu singkat. Kebangkrutan dunia usaha di semua sektor. Mulai transportasi, perhotelan, restoran, manufaktur, perdagangan, hingga konsumsi. Ini mengancam stabilitas keuangan suatu negara," jelas Ani.

Baca juga: BKPM: Fokus Kelola UMKM, Ekonomi RI Bisa Tumbuh 4%

Menurutnya, satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi pandemi covid-19 ialah penemuan vaksin. Namun, dia mengakui upaya vaksinasi membutuhkan waktu dan persiapan matang. Hal ini menjadi tantangan di berbagai negara.

Lebih lanjut, Bendahara Negara menyoroti kebijakan fiskal yang dilakukan pemerintah. Melalui pelebaran defisit anggaran untuk menyokong kebutuhan hidup masyarakat. Serta, upaya penanganan krisis kesehatan. Pemerintah telah melebarkan defisit anggaran sebesar 6,34% terhadap PDB pada tahun ini.

Pelebaran defisit itu dikatakannya tidak sedalam negara lain. Misalnya, Amerika Serikat yang melebarkan defisit anggaran lebih dari 10%. Kebijakan fiskal di Tanah Air, lanjut dia, juga ditopang kebijakan moneter yang terukur.(OL-11)

BERITA TERKAIT