08 October 2020, 10:56 WIB

MIND ID Resmi Kuasai 20% Saham Vale


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

Menteri Badan Usaha MIlik Negara (BUMN), Erick Thohir menuturkan Mining Industri Indonesia (MIND ID) sebagai Holding BUMN Industri mineral dan pertambangan (minerba) telah menuntaskan transaksi pembelian 20% saham divestasi PT Vale Indonesia Tbk (PT VI).

PT VI sendiri dimiliki Vale Canada Limited (VCL) dan Sumitomo Metal Mining Co Ltd. (SMM) sebagai pemegang saham mayoritas.

Erick menuturkan, transaksi yang berlangsung pada Rabu (7/10) di Jakarta itu, VCL telah melepas sahamnya sebesar 14,9% dan SMM sebesar 5,1% seharga Rp2.780 per lembar saham atau senilai total Rp5,52 triliun.

"Indonesia merupakan salah satu produsen nikel terbesar di dunia sehingga transaksi saham Vale Indonesia menjadi bagian penting dalam hilirisasi industri pertambangan nasional yang punya peran strategis dalam industri nikel global," jelas Erick dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (8/10).

Dengan selesainya transaksi tersebut, Erick menyebut kepemilikan saham di PTVI berubah menjadi Vale Group 44,34%, MIND ID 20,00%, SMM 15,03%, Sumitomo Corporation 0,14%, dan publik 20,49%.

Menteri BUMN itu juga menjelaskan, divestasi saham 20% ini merupakan kewajiban amandemen dari Kontrak Karya (KK) pada 2014 antara pemerintah dengan PTVI yang harus dilaksanakan lima tahun setelah amandemen tersebut. KK PTVI akan berakhir pada 2025 dan dapat diubah atau diperpanjang menjadi izin usaha pertambangan khusus (IUPK) sesuai peraturan perundang-undangan.

Menteri BUMN menambahkan pembelian saham Vale Indonesia oleh MIND ID untuk mengelola cadangan mineral strategis Indonesia dan juga hilirisasi industri pertambangan nasional, terutama nikel domestik nikel sehingga akan menghasilkan produk domestik nilai ekonomis hingga 4-5 kali lipat lebih tinggi dari produk hulu.

"Ini langkah bagus untuk memperkuat value chain di Indonesia, serta pengembangan industri baterai untuk mobil listrik sebagai bagian proses transformasi sistem energi," ujar Erick.

Dengan menjadi pemegang saham terbesar kedua, Erick menyebut MIND ID akan memiliki akses strategis untuk mengamankan pasokan bahan baku untuk industri hilir nikel Indonesia. Baik untuk hilirisasi industri nikel menjadi stainless steel, maupun menjadi baterai kendaraan listrik.

Indonesia, ungkap Erick, dikenal sebagai produsen dan eksportir nikel, bahan baku utama EV Battery, terbesar dunia yang menguasai 27% kebutuhan pasar global.

Sejak kebijakan ekspor nikel dilarang per 1 Januari 2020, MIND ID melakukan inovasi dan restrukturisasi model bisnis dalam industri ini, sekaligus meningkatkan value chain dari nikel nusantara. (E-3)

BERITA TERKAIT