08 October 2020, 10:48 WIB

Pandemi dan Disrupsi Ubah Pola Kerja Media Massa


Gervin Nathaniel Purba | Humaniora

CEO Media Group Mohammad Mirdal Akib menyebut situasi pandemi covid-19 dan disrupsi digital membuat industri media menghadapi tantangan semakin berat. Mau tidak mau, harus ada perubahan sekaligus beradaptasi mengikuti zaman agar bisa bertahan.

Perubahan, kata Mirdal, terjadi pada berbagai aspek kehidupan. Mulai dari perubahan cara penyampaian konten, cara berjualan, keuangan, hingga cara berbisnis.

"Ada dua isu besar yang dihadapi saat ini. Pandemi covid-19 dan perubahan pola yang dipaksakan. Disruption yang terdisrupsi ini melahirkan wajah baru," ujar Mirdal pada webinar Kalsul Series #6 SKK Migas-KKKS Kalimantan dan Sulawesi dengan tema Media Digital, Kini, dan Tantangan Masa Depan, Rabu (7/10).

Kondisi ini juga mengubah peran dan tanggung jawab para karyawan di perusahaan media. Mirdal mencontohkan kondisi Metro TV pada divisi teknik/broadcasting memiliki sekitar 116 posisi jenis pekerjaan pada 2015. Saat ini hanya menyisakan 82 jenis pekerjaan.

"Sisanya digantikan oleh aplikasi, sisanya pindah ke fungsi lain yang baru," ujar Mirdal.

Dari sisi penyampaian konten, saat ini redaksi di Media Group tidak hanya memikirkan konten untuk dimuat di koran, online dan televisi saja. Seluruh redaksi memikirkan penyampaian konten ke seluruh platform. Hal ini memberikan masyarakat pilihan informasi yang akurat untuk memberantas informasi palsu (hoaks).

"Redaksi dan pengelola konten menyalurkan dengan connected TV, social TV, TV terestrial, online TV, media sosial, OTT, dan sebagainya. Hanya dengan satu dapur dan satu redaksi," ujarnya.

Cara kerja awak media juga turut berubah mengikuti perkembangan zaman. Jurnalis kini tidak hanya fokus untuk membuat laporan di media cetak saja. Namun harus juga bisa membuat laporan untuk online, TV, bahkan podcast.

"Konvergensi itu suatu keniscayaan. Jadi jurnalis hari ini jika disuruh liputan Piala Dunia, dia harus bisa mengambil gambar, membuat tulisan untuk online dan cetak, serta pengambilan gambar untuk dimuat di media sosial," tutur Mirdal.

Tantangan tersebut tidak hanya terjadi saat ini saja. Dia menilai perubahan cara penyampaian berita masih bisa terjadi pada beberapa tahun ke depan. Apalagi, saat ini pemerintah sedang memproyeksikan akan mengembangkan jaringan 5G pada 2022.

Baca juga: Bantu Media Massa, Pemerintah Tanggung PPN Kertas Koran

Artinya, infrastruktur jaringan internet akan semakin maju. Hal ini mendorong perusahaan media untuk bisa melakukan penyiaran dengan lebih efektif dan efisien. Bisa saja peran manusia akan semakin minimal karena sudah tergantikan mesin.

Melihat tantangan tersebut, wartawan senior Wahyu Muryadi mengajak seluruh jurnalis untuk tidak menyerah pada situasi ini. Menurutnya, selama media, khususnya media cetak masih bisa menyajikan suatu berita berkualitas dan berpegang teguh pada independensi, kepercayaan masyarakat akan terjaga dan tentunya bisa mendatangkan iklan.

"Harus direnungkan juga apakah saya bisa menjadi wartawan yang benar dan proper (layak), dan apakah betul-betul tidak bisa dibeli. Jika bisa menjawab seluruh pertanyaan mendasar ini tentunya bisa meningkatkan kepercayaan diri untuk menjawab tantangan tersebut," kata Wahyu.

Terkait penyelenggaraan webinar Kalsul Series #6 SKK Migas-KKKS Kalimantan dan Sulawesi, Kepala Perwakilan SKK Kalimantan dan Sulawesi (Kalsul) Syaifudin mengatakan webinar merupakan bentuk dukungan SKK Migas terhadap awak media, khususnya di wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

"Diharapkan dapat memberikan motivasi melalui narasumber yang hebat kepada rekan-rekan media di Kalimantan dan Sulawesi," ucap Syaifudin.(OL-5)

BERITA TERKAIT