08 October 2020, 05:30 WIB

Tata Kelola Pendidikan Harus Diperbaiki


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

PERBAIKAN tata kelola pendidikan terkait dengan mutu pengajar dan keterbukaan akses serta sinergi dengan lembaga pendidikan swasta sangat diperlukan untuk menjawab berbagai tantangan di masa datang.

“Dampak pandemi terhadap proses pendidikan di lingkungan pendidikan tinggi sangat dirasakan oleh para dosen dan mahasiswa di Tanah Air,” kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat saat membuka diskusi da­ring bertema Menyelamatkan kualitas sarjana di masa pandemi yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, kemarin.

Diskusi dimoderatori Luthfi Assyaukanie (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR), mengha­dirkan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendikbud Aris Junaidi, Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda, Rektor UNJ Komarudin  dan Rektor Universitas Muhammadiyah Kudus Rusnoto sebagai narasumber. Hadir pula Guru Besar FEB Unair Badri Munir Sukoco dan Direktur Eksekutif Yayasan Sukma Ahmad Baedowi.

Dampak tersebut, menurut Lestari, antara lain terlihat dalam bentuk kendala pelaksanaan belajar jarak jauh. Kendala lainnya, jelas Rerie, sapaan akrab Lestari, sekitar 70% dari 4.250 kampus terkendala pembiayaan. Pasalnya, banyak orangtua siswa mengalami kesulitan keuangan di masa pandemi.

“Karena itu, untuk masa mendatang, perlu sejumlah perbaikan tata kelola pendidikan yang lebih antisipatif,” ujar legislator Partai NasDem itu.

Syaiful Huda mengatakan sebenarnya Kemendikbud sudah menerapkan konsep Merdeka Belajar yang mampu merespons sejumlah kendala di masa pandemi. Hanya saja, jelasnya, belum meratanya kualitas perguruan tinggi mengakibatkan proses adaptasi dengan konsep Merdeka Belajar masih terkendala.

Dalam komentar akhir diskusi, jurnalis senior Saur Hutabarat menegaskan yang menjadi kendala dalam proses belajar jarak jauh bukanlah cara belajar yang berbeda dari kebiasaan. Menurut Saur, belajar jarak jauh sangat bergantung pada cara penyampaian dosen dalam proses belajarnya.

Dia mencontohkan kuliah gratis secara daring di sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Amerika Serikat. “Dengan gaya penyampaian dosen yang rileks dan bahasa yang mudah dipahami, kuliah daring dengan pokok bahasan yang berat mendapat perhatian jutaan pemirsa,” ujarnya.

Pendidikan dasar

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) di masa pandemi rupanya memunculkan permasalahan baru bagi kesehatan mental anak. Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) menyoroti PJJ itu menimbulkan permasalahan bagi siswa, guru, dan orangtua di tengah kondisi pandemi covid-19.

“Banyak yang harus diperbaiki dari sistem PJJ yang dijadikan solusi kegiatan belajar-mengajar di tengah pandemi. PJJ memberikan tekanan yang berat bagi siswa belajar dengan tugas menumpuk yang diberikan oleh para guru. Hal ini dapat berdampak pada kesehatan mental mereka,” kata Ketua Policy Center Iluni UI M Jibriel Avessina dalam sebuah diskusi, kemarin.

Sementara itu, psikolog klinis Indri Savitri mengatakan ada beberapa peran anak yang hilang dalam pengajaran PJJ itu seperti penyesuaian terhadap sekolah, penguasaan keterampilan akademik, dan sosialisasi dengan teman sebaya. (Wan/H-1)

BERITA TERKAIT