07 October 2020, 23:30 WIB

MPR: Perguruan Tinggi Swasta Kesulitan Biaya, Negara Harus Hadir


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

ASOSIASI Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) menyatakan bahwa sekitar 70% dari 4.520 kampus berpotensi kesulitan melakukan pembiayaan, baik gaji maupun operasional di semester mendatang. Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menganggap masalah ini perlu direspons segera.

“Kondisi ini tentu tidak boleh dianggap remeh,” ujar Lestari dalam diskusi Menyelamatkan Kualitas Sarjana di Masa Pandemi, Rabu (7/10).

Seperti diketahui, imbuhnya, perguruan tinggi negeri di Indonesia jumlahnya sangat terbatas. Karena itu, sebagian besar mahasiswa menempuh studinya di perguruan tinggi swasta. Baik mahasiswa PTN maupun PTS, tegas Lestari, negara haruslah hadir untuk merespons masalah yang terjadi.

"Kampus pendidikan tinggi swasta merupakan bagian dari sistem pendidikan yang tidak terpisahkan dari seluruh sistem perguruan tinggi nasional. Karena itu, untuk masa mendatang, perlu sejumlah perbaikan tata kelola pendidikan yang lebih antisipatif,” sergahnya.

Selain masalah pembiayaan, dari sejumlah survei, diketahui lebih dari 70% mahasiswa merasa pembelajaran daring yang dilaksanakan selama sekitar tujuh bulan terakhir tidak efektif.

Rektor Universitas Negeri Jakarta Komarudin mengamini, tingkat keberhasilan kuliah daring dinilai rendah karena banyak kegiatan praktik yang tidak dapat terlaksana. Pembelajaran mahasiswa di daerah juga terhambat karena kesulitan jaringan internet.

"Sehingga pihak kampus pun menyarankan para mahasiswa yang berasal dari daerah terpencil untuk tinggal di asrama kampus," ujarnya.

Ia mengakui, selama pandemi covid-19 penulisan tugas akhir juga ikut terhambat dan kualitasnya menurun karena pendekatan (penelitian) yang dilakukan lebih dipersempit yakni, melalui daring.

“Yang tadinya skripsi, tesis, disertasi ataupun riset-riset dosen dan mahasiswa yang membutuhkan praktikum maka dilakukan perubahan-perubahan. Ketika ini terjadi perubahan metode, substansi, pendekatan, dan jenis penelitian maka otomatis ini juga bisa menurunkan kualitas,” terangnya. (H-2)

BERITA TERKAIT