08 October 2020, 01:45 WIB

Komitmen Mengurus Sampah


Putri Rosmalia Oktaviani | Humaniora

SUKSES berkarier di sebuah perusahaan internasional hingga mengemban jabatan sebagai general manajer tidak membuat Fei Febri merasa lengkap sebagai seorang manusia.

Ia merasa perlu melakukan sesuatu yang bermanfaat dan berdampak bagi sesama manusia dan alam. Berawal dari kunjungannya ke sebuah daerah di Filipina, Fei sadar bahwa untuk bisa menciptakan kota yang bersih harus ada pihak yang bergerak mengelola sampah dengan lebih baik. 

Kesadaran itu mendorong Fei untuk ikut aktif berkegiatan di Bank Sampah Bersinar (BSB) di Kota dan Kabupaten Bandung. “Sejak 2018, saya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan saya dan fokus mengembangkan Bank Sampah Bersinar,” ujar Fei ketika dihubungi Media Indonesia, Senin (5/10).

Fei mengatakan, belum adanya sistem pengelolaan sampah yang baik di Indonesia membuat ia merasa perlu berkontribusi mengatasi permasalahan sampah. Dimulai dari lingkup kecil tempat ia bermukim, Kota dan Kabupaten Bandung.

“Ketika pertama fokus memulai, saya pikirkan gimana caranya agar orang-orang mulai aware soal pemilahan sampah,” ujar Fei.

Untuk mewujudkannya, edukasi menjadi ujung tombak gerakan. Sejak 2018, setdaknya sudah ada lebih dari seribu titik yang didatangi oleh Fei dan tim BSB untuk diedukasi soal pemilahan sampah.

“Jadi, yang saya lakukan bukan menargetkan sampah yang terkumpul, tetapi berapa banyak orang yang teredukasi untuk mau melakukan pemilahan sampah,” tuturnya.

Namun, gerakan tak berhenti hanya pada ranah edukasi. Mereka juga melakukan pendampingan dan monitoring pada kelompok-kelompok warga yang telah diedukasi untuk terus memilah sampah.

“Kita menggunakan sistem reward. Kalau sudah pilah sampahnya, mereka akan dapatkan benefit dari sampah tersebut. Itulah kenapa kita jadi ada tabungan sampah. Mereka kita ajarkan pemilahan sampah. Semakin detail, maka semakin bagus nilainya,” ujar peraih sarjana hukum, dari Universitas Padjadjaran, Bandung ini.

Ia mengatakan salah satu cara paling efektif mengajak masyarakat mau terus memilah sampah ialah dengan mengenalkan bahwa sampah bisa menghasilkan. Karena itulah, BSB membuat sistem tabungan sampah.

“Kadang saya adakan bazar, misalnya boleh beli sembako dengan harga murah, tetapi bayar pakai sampah. Sampai akhirnya bisa beli token listrik, pulsa, dan lainnya hingga akhirnya mereka terbiasa. Itu semuanya bayar pakai sampah. Kita punya warung BSB seperti minimarket, orang datang ke sana bawanya sampah. Bisa dibelikan jadi barang atau bisa mereka tabungkan,” ujar Fei.

Fei mengatakan, untuk mempermudah penyaluran sampah dan benefitnya pada warga, dibentuk unit-unit yang terdiri atas perwakilan warga sebagai pengurus. Nantinya warga bisa menyetorkan hasil pilahan sampahnya ke unit di wilayahnya.

Warga akan bisa mendapatkan penambahan saldo tabungan, uang tunai, hingga tabungan emas dari hasil menjual sampahnya. Bahkan saat ini BSB juga telah membuat program tabungan haji dengan menggunakan sampah.


Butuh komitmen

Hingga sekarang, ada 300 unit bank sampah binaan BSB di seluruh wilayah Bandung Raya. Dari 300 unit itu terdapat setidaknya 10 ribu nasabah BSB. 

Unit tidak hanya berada di lingkungan tempat tinggal masyarakat, tetapi juga di beberapa sekolah hingga instansi pemerintah atau perusahaan swasta. Dalam waktu dekat, program dan gerakan BSB juga akan diduplikasi di wilayah Balige, Sumatra Utara.

“Memang ini sangat butuh komitmen. Orang kadang semangat di awal saja, tetapi kemudian mengendur di perjalanan,” tuturnya.

Setelah dikumpulkan, BSB akan menyalurkan sampah yang telah terpilah pada perusahaanperusahaan pengolah sampah. Oleh perusahaan sampah-sampah itu diproduksi menjadi berbagai macam barang, seperti kertas, plastik daur ulang, hingga bahan pakaian.

“Jadi, kita jangan lagi melihat sampah sebagai hal yang tidak berguna. Lihat sampah sebagai material yang dibutuhkan oleh industri daur ulang. Makanya kenapa Indonesia sampai impor-impor sampah karena industri daur ulang kita sebenarnya membutuhkan. Di sini itu sampahnya banyak, tetapi tidak dipilah,” ujar Fei.

Fei mengatakan ia percaya bahwa untuk bisa menciptakan sistem pengelolaan sampah yang baik, setiap prosesnya harus dilakukan dengan profesional. Layaknya menjalankan sebuah perusahaan besar, mengelola sampah juga harus dilakukan dengan profesionalisme dan komitmen yang tinggi.

“Mengelola sampah itu harus profesional tidak boleh setengahsetengah. Orang harus tahu bahwa sampah ini punya potensi besar. Kalau kita mau mengelolanya secara bertanggung jawab dan profesional dengan sistem yang baik, ini sangat potensial,” ujar Fei.

Saat ini setiap bulan BSB dapat mengumpulkan sampah terpilah hingga mencapai 60 ton. Seluruhnya tersalurkan dan termanfaatkan oleh perusahaan-perusanaan pengolah sampah. Bila ada sampah organik yang diterima, BSB juga akan mengelolanya untuk bisa menjadi pupuk.

“Angka 60 ton masih sedikit kalau dibandingkan dengan sampah di Bandung Raya yang mencapai 7.000 ton per hari. Jadi, PR kita masih berat. Perlu lebih banyak orang yang sadar dan mau bergerak,” ujarnya.

Upaya penyadaran itu, menurutnya, merupakan hal paling sulit dan menantang untuk dilakukan. Sebab, tidak mudah membuat masyarakat mau mulai bergerak memilah sampah secara konsisten dan mandiri.

“Mereka tidak terbiasa karena selama ini belum pernah ada aturan soal pilah sampah. Komitmen dan konsistensi dari masyarakat itu tantangan utama. Kita harus melakukan pendampingan terus dan tidak lelah mengingatkan mereka untuk melakukan hal ini,” tutur Fei. (M-4)

 

BERITA TERKAIT