07 October 2020, 22:00 WIB

Kemenkes: Sinergi Jadi Kunci Penanganan Covid-19 di Jawa Barat


Atalya Puspa | Humaniora

KOTA Bogor, Depok dan Bekasi menjadi episentrum dan menyumbang kasus terbesar di Provinsi Jawa Barat dengan kontribusi sekitar 75% dari total kasus. Kementerian Kesehatan pun memantau langkah-langkah penanganan covid-19 di provinsi ini, termasuk dalam menurunkan kasus kematian covid-19.

"Jangan sampai bereksperimen sendiri tidak melihat tatalaksana atau pedoman yang sudah disosialisasikan” tegas Staf Ahli Menteri Bidang Hukum Kesehatan Kuwat Sri Hudoyo, Rabu (7/10).

Ia meminta agar pemda melakukan identifikasi dan kasus covid-19 dipantau secara harian agar tidak kecolongan dari sisi kasus ataupun ketersediaan logistik.

"Logistik jangan sampai tidak seimbang, stock obat-obatan ketersediaan fasyankes dan SDM, khususnya di zona merah dan orange yang kasusnya tinggi agar bisa kita carikan solusinya," cetus Kuwat.

Pemda juga diminta betul-betul mengecek kesediaan fasilitas kesehatan seperti RS, Tempat Tidur (TT), ruang ICU, SDM disamping itu mengetahui bagaimana masyarakat dalam melakukan isolasi mandiri (isman) yang sesuai protokol kesehatan agar tidak terjadi penularan dan atau menjadi kluster keluarga.

Jika ditemukan kendala dalam penanganan covid-19, Kuwat berharap Pemprov Jawa Barat segera mencari solusi dengan cara bersinergi dengan pusat.

"Untuk mencari solusi dan terbaik bagi rakyat demi perbaikan," serunya.

Sesuai Pegub No63 Tahun 2020, Pembatasan Sosial Berskala Besar Proporsional untuk wilayah Bodebek diperpanjang hingga 27 Oktober dan diluar Bodebek tetap menerapkan AKB sampai dengan 24 Oktober. Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jawa Barat Daud menyampaikan, selama minilockdown ini, pemda terus menggencarkan edukasi covid-19 dengan memberdayakan masyarakat secara proaktif

Ia mennjelaskan, saat ini pemanfaatan TT naik dari 56,72% menjadi 58,53% dengan tingkat keterisian 50% di rumah sakit. Namun, pemda telah berkoordinasi dengan PHRI untuk memanfaatkan hotel serta tempat isolasi di Lido pusat latihan BNN.

Pihaknya menargetkan test PCR 50 ribu per minggu dan hingga 4 Oktober 2020 Provinsi Jawa Barat telah melakukan pengujian tes PCR Massal sekitar 781.650.

Daud menyampaikan, upaya kedepannya mengikuti arahan dari Pusat dan memperhatikan 36 indikator yang telah Provinsi Jabar himpun dari berbagai kalangan dan ahli. Nantinya. indikator tersebut akan menjadi target atau Key Performance Indikator (KPI) Satgas di komite kebijakan berkinerja mencapai target, baru 40% indikator tersebut berjalan.

"Sedangkan 60% sedang dilaksanakan untuk mencapai yang diharapkan agar angka kasus positif menurun, kematian menurun dan kesembuhan harus naik dengan gencar melakukan test, tracing, treatment dan Prevention 3M dengan memperkuat pengawasan mobilitas orang berbasis pemberdayaan masyarakat," tandasnya. (H-2)

BERITA TERKAIT