08 October 2020, 00:55 WIB

PM Kyrgyzstan Mundur Pasca-kerusuhan Pemilu


MI | Internasional

PERDANA Menteri Kyrgyzstan Kubatbek Boronov mengundurkan diri pada Selasa (6/10) setelah kerusuhan yang meluas dan mendorong badan pemilihan umum untuk membatalkan hasil pemilihan parlemen pada Minggu (4/10).

Hasil pemilihan tersebut memicu kekacauan pada Senin (5/10) malam di ibu kota Bishkek, dengan pengunjuk rasa merebut gedung-gedung pemerintah dan membebaskan politikus terkenal dari penjara, termasuk mantan Presiden Almazbek Atambayev.

Boronov, yang merupakan sekutu Presiden Sooronbay Jeenbekov yang pro-Rusia, digantikan seorang politikus nasionalis yang dibebaskan pengunjuk rasa dari penjara sehari sebelumnya.

Perdana menteri baru, Sadyr Japarov, terpilih dalam pertemuan luar biasa di sebuah hotel setelah pengunjuk rasa merebut gedung parlemen. Pada Selasa (6/10), pengadilan di Bishkek membatalkan hukuman 11,5 tahun kepada Japarov yang dihukum karena penyanderaan dan kejahatan lainnya yang mulai dia lakukan pada 2018.

Para pendukung oposisi telah membanjiri jalan-jalan di Bishkek pada Senin untuk menuntut pengunduran diri presiden dan pemilihan ulang. Demonstrasi damai di Bishkek kemudian berubah menjadi kekerasan setelah terjadi bentrokan dengan polisi.

Kerusuhan atas pemungutan suara tersebut menyebabkan hampir 700 orang terluka dan satu orang tewas. Presiden Jeenbekov  menegaskan bahwa situasi di negara itu berada di bawah kendalinya dan menuduh beberapa kekuatan politik berusaha merebut kekuasaan.

“Saya memerintahkan lembaga penegak hukum untuk tidak melepaskan tembakan atau menumpahkan darah, agar tidak membahayakan nyawa satu warga negara,” kata Jeenbekov.

Komisi Pemilihan Umum Pusat Kyrgyzstan mengatakan mereka telah membatalkan hasil pemilihan yang membuat partai-partai yang dekat dengan Jeenbekov mendominasi hasil, di tengah tuduhan pembelian suara massal. (AFP/Nur/I-1)
 

BERITA TERKAIT