07 October 2020, 20:50 WIB

TMM Sambut Wacana Investasi Tesla di Indonesia, Ini Alasannya


mediaindonesia.com | Ekonomi

PT Trinitan Metals & Minerals Tbk. (TMM) menyambut baik wacana investasi Tesla Inc. di Indonesia. Dilansir dari Reuters pada Senin (5/10), Tesla dikabarkan sedang melakukan pembicaraan awal dengan Pemerintah Indonesia, terkait potensi investasi dari produsen mobil listrik asal Amerika Serikat (AS) tersebut di Indonesia.

Sebagaimana diketahui, TMM merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan tehnologi pemurnian mineral, pengelolaan limbah pertambangan dan eksplorasi tambang. Salah satu pengembangan yang dilakukan oleh TMM adalah memanfaatkan teknologi Hidrometalurgi Step Temparature Acid Leach (STAL) di Indonesia untuk melakukan proses pemurnian berlapis, sehingga menghasilkan limbah padat yang sangat minim, penggunaan air dan energi yang minimal.

Menurut Direktur Utama TMM, Petrus Tjandra dalam siaran pers, Rabu (7/10), teknologi Hidrometalurgi Step Temparature Acid Leach (STAL) yang dimiliki TMM dapat diaplikasikan untuk mendukung investasi Tesla di Indonesia.

"STAL mampu menghasilkan produk Nikel 99,96% (LME Grade), serta produk nikel sulfat (NiSO4) dan kobalt sulfat (CoSO4) battery grade yang dapat digunakan oleh para produsen baterai lithium ion,” ujar Petrus Tjandra.

Saat ini, TMM juga tengah mengembangkan skema mine-mouth leaching plant dalam bekerja sama dengan para penambang Nikel di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara, dimana para penambang akan membangun leaching plant di setiap 'mulut' tambang nikel milik mereka.

Menurut Petrus Tjandra, leaching plant ini akan mengolah bijih nikel laterit milik penambang menjadi produk Crude MHP (Mix Hydroxide Precipitate) dan MSP (Mix Sulphide Presipitate) dengan kadar nikel sekitar 24-40%, yang kemudian akan diolah TMM untuk menjadi Nikel 99,96%, serta nikel sulfat dan kobalt sulfat.

"Skema ini juga sejalan dengan permintaan Elon Musk (CEO Tesla) agar penambang nikel menjaga kelestarian lingkungan, karena bahan galian yang sudah di proses nantinya akan dilakukan penyuburan kembali sehingga bisa dikembalikan ke lokasi dan dilakukan penanaman,” ungkap Petrus Tjandra.

Lebih lanjut Petrus Tjandra menjelaskan bahwa TMM memiliki komitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan, dengan mengaplikasikan zero waste management. Menurut Petrus, teknologi STAL menghasilkan limbah residu sebanyak 30-40%, atau jauh lebih sedikit jika dibandingkan teknologi lainnya yang menghasilkan limbah residu hingga 90-95%.

“Residu yang dihasilkan STAL memiliki kandungan Besi (Fe) sekitar 80%, dan dapat diolah menjadi iron ore untuk digunakan oleh industri baja. Selain itu juga dapat diolah menjadi bentuk batu bata (brick), untuk digunakan membangun jalan maupun jembatan, jadi totally no waste in the factory.” pungkas Petrus Tjandra. (OL-13)

Baca Juga: TMM Gandeng Badan Geologi KESDM Uji Nikel dengan Teknologi ...

BERITA TERKAIT