07 October 2020, 19:45 WIB

PJJ Perlu Diperbaiki demi Kesehatan Mental Anak dan Orangtua


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora


ALIH-alih menjadi solusi bagi para siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar di masa pandemi, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di masa pandemi rupanya membawa munculnya permasalahan baru bagi kesehatan mental anak.

Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) menyebut PJJ menimbulkan permasalahan baru bagi siswa, guru, dan orang tua di tengah kondisi pandemi covid-19, karena itu harus diperbaiki.

Baca juga: Pengamat: PJJ Tidak Efektif di Daerah Terpencil

“Banyak yang harus diperbaiki dari sistem PJJ. PJJ memberikan tekanan yang berat bagi siswa belajar dengan tugas menumpuk, hal itu dapat berdampak pada kesehatan mental mereka,” kata Ketua Policy Center ILUNI UI, M. Jibriel Avessina dalam diskusi daring Forum Diskusi Salemba bertema  'Menjaga Kesehatan Mental Selama Pembelajaran Jarak Jauh', Rabu (7/10).

Jibriel menambahkan, tekanan yang dihadapi para siswa tidak hanya datang dari sisi akademis namun juga dari sisi ekonomi. “Hingga saat ini, masih banyak siswa yang mengeluhkan sulit untuk mendapat akses internet karena tidak punya kuota atau tidak ada sinyal dan gadget. Ini jelas menjadi masalah,” tegasnya.

Sementara itu, Psikolog Klinis Indri Savitri mengataakan ada beberapa peran anak yang hilang dalam pengajaran PJJ ini seperti penyesuaian terhadap sekolah, penguasaan keterampilan akademik, sosialisasi dengan teman sebaya dan sebagainya. Padahal kata Jibriel, perann tersebut akan merangsang kesehatan mental anak yang ditandai dengan kemampuan belajar, memahami perasaan, mengekspresikan, mengelola emosi positif dan negatif, dan sebagainya.

Indri menyebut PJJ memberi dampak tak hanya pada anak, tapi juga orang tua. Ia menyebut dalam hal ini orang tua harus menggantikan peran guru dalam mengawasi proses belajar anak secara langsung. Padahal orang tua juga memiliki tantangan karena peran tersebut tidak sejalan dengan keterampilan yang dibutuhkan anak.

Indri mengatakan, peran orang tua juga berat yakni pertama perlu menyesuaikan harapan kepada anak di masa pandemi, melihat kebutuhan anak. Kedua, harus melihat anak secara menyeluruh, agar perkembangan optimal. Ketiga, mendiskusikan masalah dengan anak dan pasangan serta mencari solusi. Keempat, melakukan keseimbangan dalam hidup. Kelima, menetapkan keluarga sebagai sumber belajar. Ketujuh, memberikan struktur di keluarga. Terakhir, percakapan dengan anggota keluarga disesuaikan dengan tahap perkembangan

Menurutnya, adaptasi terhadap PJJ menjadi hal yang mendasar. “Pandemi masih terus berlanjut dan kasus positif yang bertambah memaksa sekolah untuk terus menerapkan PJJ sampai Juni 2021. Perspektif kesehatan mental menjadi hal yang krusial dan perlu direalisasikan secara sistemik antara anak, orang tua, para guru, dan sekolah maupun komunitas untuk menjaga kesehatan mental anak serta pihak-pihak yang terkait,” jelas Indri.

Senada, Ketua Kelompok Riset Kesmenkom, Sherly Saragih Turnip, mengingatkan pentingnya kesejahteraan psikologis anak dalam proses PJJ. “Diperlukan kerja sama semua pihak untuk memastikan anak memiliki kesehatan mental yang baik, mulai dari orang tua dan sekolah sebagai lingkungan terdekat anak, hingga sistem pendidikan serta budaya yang ada di negara kita. Kesemuanya itu perlu mengutamakan kesejahteraan psikologis anak di dalam proses PJJ.”

ILUNI melalui Forum Diskusi Salemba pun mengajak segenap elemen masyarakat untuk bersama-sama mengatasi permasalahan dalam penyelenggaraan PJJ. Melalui kolaborasi antar elemen mulai dari pemerintah, sekolah, keluarga, dan komunitas agar setiap anak dapat menikmati proses belajar dan menjadi penyintas pandemi yang cerdas, gemar belajar, serta sehat mental. (Wan/A-1)

BERITA TERKAIT