07 October 2020, 21:20 WIB

Memulai Kesadaran Akan Kematian


Tomy Michael, Tenaga Edukatif FH Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya | Opini

SEMPAT berbincang santai dengan rekan kerja tentang pentingnya ilmu pengetahuan dalam penyelesaian covid-19. Perbincangan itu cenderung menyalahkan ketidakdisiplinan dalam bertindak sehari-hari. Saat ini yang dibutuhkan adalah kekuatan otak manusia dan sesudah itu, saya mengikuti diskusi akan pemikiran Lucius Annaeus Seneca seorang filsuf yang gemar membicarakan kematian. Cukup sulit membayangkan ketika seluruh masyarakat memiliki pemikiran yang sama dengan Seneca dimana kematian sama pentingnya dengan kehidupan. 

Melihat gencarnya razia akan masker, rajinnya untuk cuci tangan dan jaga jarak di Surabaya, Jawa Timur, maka pertanyaan yang muncul yaitu apakah kita takut kematian? Sering kali syarat kematian atau meninggal dunia dicantumkan dalam suatu peraturan perundang-undangan untuk berhenti dari suatu kedudukan. Pemahaman ini menjadi penuh perdebatan ketika kematian itu tidak pernah diketahui bagaimana kematian menghampiri diri kita sendiri. 

Untuk saat ini, syarat kematian tampaknya menjadi sering terpenuhi karena adanya covid-19. Kematian yang demikian sesungguhnya bukanlah kematian yang dikehendaki oleh suatu undang-undang. Kematian yang dikehendaki sebetulnya kematian yang elegan bisa seprti lanjut usi atau sedang melaksanakan pekerjaan dengan baik. Mungkinkah kita terlalu sering dicekcoki dengan cara bagaimana bertahan hidup di situasi sulit namun sangat kurang memahami akan hakikat kematian.

Sebagai seseorang yang memiliki pemikiran apatis (tidak terpengaruh dengan yang lain dan keyakinan kuat), Seneca sangat berani memenuhi perintah bunuh diri kepadanya dengan menyayat nadi di air hangat. Sungguh itu adalah hal yang mengerikan jika terjadi saat ini. Hal yang sama diperlakukan ketika seseorang tidak menggunakan masker dengan alasan kebebasan direnggut. Dalam pemahaman demikian, hukum telah mengambil peranannya yaitu dengan adanya sanksi bagi pelaku yang tidak menggunakan masker, pelaku yang melakukan kegiatan tanpa protokol kesehatan hingga membiarkan isu-isu yang berupaya menunjukkan jati diri dengan merugikan orang lain. 

Contoh yang unik yaitu adanya undang-undang yang mengatur tentang pengelolaan sampah. Apakah seburuk itukah kita dalam memahami sampah sehingga muncul undang-undang yang mengaturnya dan sanksi pidananya miliaran rupiah. Berkaca dari fakta hukum itu maka adanya sanksi ketika tidak menggunakan masker termasuk tepat. Cara atraktif lainnya yaitu dengan menyediakan masker secara gratis bisa melalui tempat pelayanan publik seperti pembayaran pajak atau di gerbang tol. 

Pemberian masker ini penting karena banyak masyarakat yang menggunakan masker tanpa memerhatikan kebersihan dari masker itu sendiri. Ketika melakukan pemberian maka masker yang lama atau tidak layak segera diberikan untuk dimusnahkan dengan cara yang tepat. Berhubung angin masih berhembus kencang maka bisa saja tiap kelompok masyarakat menerbangkan layangan berbentuk masker. Sudah saatnya juga kurikulum apapun harus mengutamakan adanya K3 karena kita tidak pernah mengetahui virus apalagi yang akan muncul.

Sesungguhnya pembuatan monumen peti mati seperti di Jakarta adalah cara atraktif untuk memberikan pemahaman akan pentingnya menghadapi kematian. Termasuk pemberian masker kepada patung-patung seperti di luar negeri yang sebetulnya tindakan yang gampang diingat akan membawa kebaikan bersama. Mudah-mudahan tidak perlu undang-undang tentang masker karena jika terjadi demikian kita sebagai manusia adalah makhluk koloni yang susah untuk diatur.

BERITA TERKAIT