07 October 2020, 18:40 WIB

Rektor UI: Dampak Covid-19, 41% UMKM Terpaksa Gulung Tikar


M Iqbal Al Machmudi | Ekonomi

PELAKU Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terdampak langsung di masa pandemi ini hingga gulung tikar.

Rektor Universitas Indonesia, Ari Kuncoro, mengatakan dampak covid-19 ini terlihat dari survei yang dilakukan LIPI, Litbang Kemnaker dan Lembaga demografi UI.

Baca juga: UMKM Punya Peran Atasi Potensi Krisis di Tengah Pandemi

UMKM diwakili oleh orang yang berusaha mandiri artinya pendapatannya adalah harian. Akibat pandemi pada Juli, 40% usaha berhenti, 52% mengalami penurunan, 35% tambah pendapatan, 28% lainnya mengalami penurunan pendapatan hingga lebih dari 50%.

"Pendapatan mereka yang Rp2 juta ke bawah itu 45% dari biasanya. Lalu bagaimana strateginya untuk melanjutkan usaha, mau tidak mau 41% terpaksa berhenti. Jadi berhenti merupakan dari strategi," kata Ari saat dialog Indonesia Bicara yang bertajuk Realisasi Dana Bansos UMKM Tersendat: Bagaimana Mengatasinya? yang diadakan Media Indonesia, Rabu (7/10).

Karena jika tetap berbisnis akan rugi lebih besar daripada berhenti. Pendapatannya bisa dicari di luar UMKM. Jadi jika ada PSBB lanjutan yang ada di DKI Jakarta sama jangka waktunya dengan ketahanan dengan pekerja mandiri ini.

Untuk saat ini, pemerintah melakukan kebijakan yang extraordinary yang sudah dilakukan seperti perlindungan sosial bagi kelompok miskin, bansos dan bansos produktif.

"Bansos sektor produksi ini menjadi permintaan dari masyarakat ada dan produksinya ada ini lah yang disebut sistem ayam dan telur. Ini yang menjadi fokus bahwa UMKM membutuhkan bantuan," ujarnya.

Dalam jangka panjang ini menjadi suatu usaha untuk mencoba memperbesar kemandirian ekonomi seperti di bidang alat kesehatan seperti masker, alat kesehatan atau jamu yang bisa disediakan oleh UMKM.

Wabah ini membawa masyarakat untuk menginjak ke adaptasi baru dan ini perlu diberlakukan karena bantuan atau stimulus dari pemerintah tidak bisa selamanya. Sehingga perekonomian harus diputar kembali.

"Karena satu perusahaan dengan lainnya adalah satu rantai sehingga ini seperti spiral jika diputar akan semakin cepat dan jika melambat dan dibiarkan maka kan semakin lambat," jelasnya.

Menurut Ari ketergantungan tersebut yang tidak diperhitungkan oleh negara-negara Eropa sehinga terkontraksi secara besar. Sementara Indonesia hanya mengalami kontraksi 5,32%.

"Hal ini terjadi karena mobilitas masyarakat berkurang drastis dan berbeda dengan Eropa, sektor Indonesia adalah informal jadi ini tidak bisa dibiarkan karena akan berefek domino," ungkap Ari.

Baca juga: UMKM Dapat Bantuan Subsidi Bunga 6%

Permasalah yang baru ialah pendataan. Jika di Eropa setiap bisnis kecil sudah memiliki rekekning bank sehingga memudahkan penyaluran jika ada stimulus.

"Sedangkan Indonesia ditambah data yang dinilai tidak cukup untuk investasi karena kebutuhannya belum terlalu dirasakan, UMKM bisa jalan sendirian. Inilah yang harus dilakukan yakni pendataan," pungkasnya. (Iam/A-3)

BERITA TERKAIT