07 October 2020, 17:53 WIB

Petani Milenial Buktikan Sukses Harumkan Kopi Indonesia


mediaindonesia.com | Ekonomi

Kerja keras petani milenial dalam mengembangkan komoditas perkebunan khususnya kopi, berbuah manis. Hal ini dibuktikan salah satu petani milenial asal Desa Sekarmojo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan yang sukses memetik hasilnya.

Adalah Heri Tahan Muji, 36, petani milenial yang giat dan tekun melaksanakan program Ditjen Perkebunan Kementan melalui Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya. 

Menurut Kepala BBPPTP Surabaya Kresno Suharto, pada 2018 Direktorat Jenderal Perkebunan melalui Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya memilih Kelompok Tani Candi Mulyo untuk bergabung dalam program Sertifikasi Desa Pertanian Organik berbasis komoditas perkebunan. Berbagai kegiatan pembinaan mulai dari budidaya, pengendalian hama dan penyakit secara organik, peralatan pasca panen, dan pemasaran telah diberikan kepada Kelompok Tani Candi Mulyo.

Baca Juga: Kementan Gerakkan Kostraling di Jateng, Bantu Serap Gabah Petani

Heri merupakan anggota Kelompok Tani Candi Mulyo. Kelompok Tani Candi Mulyo merupakan Binaan Ditjen Perkebunan pada program Sertifikasi Desa Pertanian Organik berbasis komoditas perkebunan. “Saya menanam kopi mulai tahun 2002 sampai sekarang,” ujar Heri saat dihubungi oleh tim POPT BBPPTP Surabaya (5/10/2020).

Heri menuturkan, bahwa dirinya mulai menanam kopi bersama anggota kelompok tani lainnya mulai dari luasan 1 ha dan saat ini telah mencapai 15 ha. "Pada awalnya Kelompok Tani Candi Mulyo ini menjual kopi dalam bentuk buah cery kepada tengkulak dengan harga yang relatif murah. Yaitu untuk robusta dihargai Rp5.000/kg dan arabika dihargai Rp8.000/kg. Kami menjual kopi dalam bentuk buah cerry karena tidak memiliki pengetahuan serta peralatan pasca panen."

Pelan tapi pasti, Heri yang ditugasi oleh Kelompok Tani Candi Mulyo di bagian pasca panen dan pemasaran kini membuktikan dapat menghasilkan kopi dengan berbagai jenis olahan. Mulai dari Natural, Semiwash, fullwash, Wine dan Honey, baik robusta maupun arabika.

Baca Juga: Pertanian Garut Ikut Diperkuat Kementan Melalui Kostratani

 Semua hasil panen kopi anggota kelompok tani dibeli oleh Heri untuk diproses hingga menjadi kopi yang enak dan nikmat. Dalam satu bulan heri mampu menjual kopi hingga 2.500 kg/bulan dengan omset rata-rata Rp100 jutaan. Selain itu turut membuka lapangan pekerjaan bagi ibu-ibu dan pemuda masyarakat sekitar untuk membantu dalam proses pasca panen.  Mulai dari sortasi buah, fermentasi, soratasi biji, sangrai, packing, promosi, dan pemasaran.

Heri memberi nama kopinya dengan merk 'Kopi Lesung Arjuno'. Kopi ini memiliki kualitas premium yang ditanam di lereng Gunung Arjuno dengan ketinggian 1.300 mdpl. Ini menghasilkan rasa kopi yang khas dan berkarakter. Kopi lesung dibudidayakan oleh Kelompok Tani Candi Mulyo dan saat ini telah mendapatkan sertifikat Organik berstandar Eropa. 

Bayu Aji Nugroho selaku POPT BBPPTP Surabaya dan pendamping desa organik mengatakan bahwa untuk mencapai ini dibutuhkan komitmen dan sinergi yang solid dari seluruh anggota kelompok tani. Perlu anak muda seperti Heri ini karena sangat menginspiratif, dapat memotivasi dan tekun mengembangkan kopi. Sehingga dapat menghasilkan kopi yang berkualitas dan menambah pendapatan petani. 

Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, pada peringatan Hari Tani Nasional di Jakarta, September lalu (24/9), yang menyatakan bahwa peran petani milenial amat dinanti negara untuk bisa menciptakan inovasi pertanian dari hulu ke hilir. Sehingga menciptakan nilai tambah komoditas pertanian. Para petani milenial harus terus didukung agar bisa memacu tumbuhnya petani-petani muda yang baru. (RO/OL-10)
   

BERITA TERKAIT