07 October 2020, 17:05 WIB

Babi Mati Mendadak di Sikka tembus 3 ribu ekor


Gabriel Langga | Nusantara

DINAS Pertanian Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur terus menerima laporan babi mati secara mendadak. Sejak Juni sampai dengan September 2020, tercatat lebih dari 3 ribu ekor. Diduga kematian babi tersebut terjangkit virus African Swine Fever (ASF) dan Hog Cholera .

Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian Kabupaten Sikka,  drh. Maria Margaretha Siko kepada mediaindonesia.com mengatakan, pihaknya sampai saat ini terus menerima laporan babi mati secara mendadak milik warga dan peternak.

Kematian babi secara mendadak ini tersebar di 20 kecamatan dari 21 kecamatan di Kabupaten Sikka. Hanya Kecamatan Talibura yang belum ada kasus kematian babi secara mendadak ini.

"Jumlah kematian babi diperkirakan akan bertambah terus di Sikka. Saat ini yang sudah sudah terdata di kita sekitar tiga ribuan lebih babi yang mati secara mendadak. Kematian babi ini diduga akibat diserang Hog Cholera dan African Swine Fever (ASF)," papar Metha, Rabu (7/10).

Dengan kondisi itu, kata dia, pihaknya bersama petugas lainnya terus menemui warga dan para peternak babi untuk memberikan edukasi pencegahan. "Sekitar 22 ribu pemilik babi yang tersebar di 17 kecamatan yang sudah kunjungi dan diberikan edukasi terkait langkah-langkah pencegahan terhadap penyakit ASF dan Hog Cholera," papar dia.

Metha juga mengimbau, kepada seluruh peternak agar lebih hati-hati memberi makan babi. Dan juga wajib membersihkan kandang agar membersihkan virus itu.

Sebelumnya, Tim Direktorat Jenderal Peternakan dan Kehewanan Kementerian Pertanian pernah menyambangi Kabupaten Sikka. Tim dari Kementerian Pertanian itu turun untuk mengecek langsung kondisi ratusan babi yang mati mendadak terserang flu afrika.

Selain turun ke Sikka, pihak dari kementerian sudah pernah mengambil sampel darah babi yang sehat dan terkena virus. Namun, hingga kini belum disampaikan apa hasil pemeriksaannya. (OL-13)

Baca Juga: Mentan Terjunkan Tim ke Sikka untuk Investigasi Flu Babi Afrika

BERITA TERKAIT