07 October 2020, 16:26 WIB

Bulan Lalu, Rekor September Terpanas Secara Global


Faustinus Nua | Humaniora

PERMUKAAN bumi lebih hangat pada bulan lalu dibandingkan dengan catatan September tahun-tahun sebelumnya. Hal itu disampaikan The European Union's Earth Observation Programme pada Rabu (7/10) yang melakukan pengamatan sepanjang tahun, dengan tahun kalender terpanas pada 2016.

Tahun ini, tercatat tiga bulan rekor kehangatan yang cukup tinggu, yakni Januari, Mei dan September. Sementara, Juni dan April hampir sama dengan catatan rekor sebelumnya, Copernicus Climate Change Service melaporkan.

"Saat ini ada sedikit perbedaan antara 2020 dan 2016 untuk tahun ini," kata ilmuwan senior Copernicus Freja Vambourg kepada AFP.

Selama periode 12 bulan hingga September, suhu planet ini hampir 1,3 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri. Itu mendekati ambang batas 1,5 derajat Celcius untuk dampak parah yang dirinci dalam laporan utama 2018 oleh panel penasihat ilmu iklim PBB, IPCC.

Perjanjian Paris telah memerintahkan negara-negara untuk membatasi pemanasan global pada "jauh di bawah" 2 derajat Celcius, dan 1,5 derajat Celcius jika memungkinkan.

Sejauh ini, Bumi telah memanas rata-rata sebesar satu derajat Celcius. Hal itu cukup untuk meningkatkan intensitas gelombang panas yang mematikan, kekeringan dan badai tropis yang semakin merusak dengan naiknya permukaan laut.

Perubahan iklim yang didorong oleh emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil telah meningkat pesat dalam beberapa dekade terakhir. 19 dari 20 tahun terakhir adalah yang terpanas sejak pembacaan akurat dimulai pada akhir abad ke-19.

Sejak akhir 1970-an, termometer global telah naik 0,2 derajat Celcius setiap dekade, menurut data UE. Suhu di bulan September "sangat tinggi" di Siberia utara, yang bersama dengan sebagian besar Lingkaran Arktik telah mengalami cuaca yang sangat hangat selama berbulan-bulan.

September brutal di Timur Tengah, dengan suhu tinggi baru dilaporkan di Turki, Israel, dan Yordania.

Baca juga : Festival Iklim 2020 Dorong Penurunan Emisi 29% - 41%

Api dan Es

Beberapa bagian Afrika Utara dan Tibet juga sangat terik, sementara suhu siang hari maksimum mencapai 49 derajat Celcius di Los Angeles County di awal bulan. Di seluruh California, lima dari enam kebakaran hutan terbesar di negara bagian dan itu masih menyala di akhir bulan.

"September lebih hangat 0,05 derajat Celcius daripada September 2019, terpanas dari September sebelumnya," kata laporan Copernicus.

Rekor global bulan lalu untuk panas sangat luar biasa karena efek pendinginan regional dari peristiwa cuaca La Nina yang terjadi secara alami di Pasifik tropis.

Sementara itu, es laut Arktik menyusut ke tingkat terendah kedua bulan lalu, menyelinap di bawah 4 juta km persegi hanya untuk kedua kalinya sejak pencatatan satelit dimulai pada tahun 1978, menurut C3S. Lapisan es Arktik mengapung di atas air laut di sekitar Kutub Utara, dan karenanya tidak berkontribusi langsung terhadap kenaikan permukaan laut saat mencair. Tapi itu mempercepat pemanasan global.

Salju yang baru turun memantulkan 80% gaya radiasi Matahari kembali ke angkasa. Tapi ketika permukaan seperti cermin itu diganti dengan air biru tua, persentase energi pemanas bumi yang diserap hampir sama.

Perubahan iklim juga telah mengganggu pola cuaca regional, mengakibatkan lebih banyak sinar matahari menerpa lapisan es Greenland, yang mencair dan melepaskan massa ke laut lebih cepat daripada kapan pun dalam 12.000 tahun terakhir, menurut sebuah penelitian pekan lalu.

Pada 2019, lapisan es yang menampung cukup air beku untuk mengangkat samudra global sejauh 7m menumpahkan lebih dari setengah triliun ton. Kira-kira setara dengan tiga juta ton air setiap hari, atau enam kolam Olimpiade setiap detik.(AFP/OL-2)

 

BERITA TERKAIT