07 October 2020, 15:48 WIB

Bisnis Korporasi Petani yang Dicetuskan Presiden Tuai Apresiasi


Media Indonesia. com | Ekonomi

PRESIDEN Joko Widodo menginginkan para petani dan nelayan menggunakan konsep korporasi, yakni membangun proses bisnis mulai dari prapanen hingga pascapanen serta tercipta ekosistem yang terhubung dengan korporasi. Jokowi yang berbicara di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/10/2020), juga sudah menginstruksikan instansi terkait untuk mewujudkan konsep tersebut mengingat Spanyol serta Malaysia sudah menerapkannya. 

Project Manager Tani Mandiri Nusa Tenggara Barat  (Taman Nusatera) Mohamad Yusuf Mansur menyambut baik dan mengapresiasi keinginan Presiden. Ia menambahkan, konsep korporasi sejalan dengan program pemberdayaan ribuan petani yang diinisiasi Koperasi Mitra Santri Nasional (KMSN) dan telah diluncurkan putra Wapres RI Ma'ruf Amin, Gus Syauqi Ma'ruf Amin, di Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat, pada 1 Oktober 2020 lalu. 

"Program Taman Nusatera bertujuan memberdayakan petani terutama petani jagung dan sudah mendapat dukungan dari sejumlah stakeholder di antaranya Danrem Wira Bhakti, Pjs Kabupaten Bima, dan Kepala Dinas Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Barat. Acara peluncuran Taman Nusatera berjalan lancar," kata Mohamad Yusuf Mansur dalam keterangan di Jakarta, Rabu (7/10/

Menurut dia, petani binaan KMSN akan didampingi seluruh pihak terkait baik BUMN maupun pihak swasta dalam hal ini BNI 46, Jasindo, PKT dan BISI International mulai saat tanam hingga panen. KMSN juga akan membebaskan lahan seluas 2 hektare untuk membangun teknologi pendukung bersama petani binaan untuk mengelola hasil panen sehingga menghasilkan kualitas yang mampu bersaing di pasar nasional maupun pasar global. Apalagi, permintaan komoditas jagung di pasar international sangat besar dan peluang bisnisnya sangat menjanjikan.  

"Dengan semua ini, kesejahteraan para petani lebih terjamin dan terangkat serta petani diharap lebih bersemangat lagi dalam bercocok tanam untuk memenuhi ketahanan pangan nasional. Kami juga akan mengedukasi petani bagaimana pentingnya menjaga dan melestarikan hutan sebagai penyanggah utama pertanian, dalam hal ini kebutuhan pengairan untuk lahan pertanian juga mencegah bahaya longsor dan banjir," tutur Yusuf.

KMSN nantinya akan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara Barat untuk mencari titik sungai bawah tanah guna membangun infrastruktur pendukung pengairan sehingga petani dalam bercocok tanam tidak hanya pada musim hujan dan terfokus kepada satu komoditas tertentu.

"Hal ini semua tidak akan terwujud apabila hanya dilakukan oleh KMSN. Tentu para petani membutuhkan dukungan semua pihak khususnya Kementerian Pertanian, BUMN, TNI, Polri, serta pemerintah pusat dan tentunya pemerintah daerah," pungkasnya. (RO/A-3) 

BERITA TERKAIT