07 October 2020, 13:35 WIB

Facebook dan Instagram Larang Akun Konspirasi QAnon Jelang Pilpres


 Faustinus Nua | Internasional

FACEBOOK  mengumumkan larangan pada semua akun yang terkait dengan kelompok konspirasi QAnon, Selasa (6/10) ketika jejaring sosial tersebut mencoba untuk menekan informasi yang salah menjelang pemilihan presiden AS.

Langkah melawan QAnon di Facebook dan platform berbagi gambarnya, Instagram, dilakukan ketika raksasa online itu mencoba menghindari penyalahgunaan untuk menipu atau membingungkan pemilih. Hal itu seperti yang terjadi selama pemilu 2016 yang menempatkan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih.

"Kami akan menghapus semua halaman Facebook, Grup dan akun Instagram yang mewakili QAnon, meskipun tidak mengandung konten kekerasan," kata raksasa internet itu dalam sebuah posting blog.

Dari postingan anonim 2017 yang mengklaim eksploitasi anak dan plot politik, gerakan tanpa pemimpin dan tanpa anggota tersebut telah mendapatkan tempat di aliran Twitter Trump.

FBI tahun lalu mengatakan dalam sebuah laporan bahwa QAnon adalah salah satu dari beberapa gerakan yang dapat mendorong baik kelompok maupun individu ekstremis untuk melakukan tindakan kriminal atau kekerasan.

Larangan akun QAnon meningkatkan upaya Facebook untuk menekan kampanye misinformasi. Kampanye itu kadang didukung Trump, beberapa minggu sebelum pemilihan presiden 3 November.

"Keputusan Facebook untuk melarang QAnon dari semua platform-nya sangat dibutuhkan, jika terlambat, langkah untuk membersihkan teori konspirasi berbahaya dari platform tersebut," kata kepala eksekutif Anti-Defamation League Jonathan Greenblatt.

"Kami berharap ini adalah upaya tulus untuk membersihkan kebencian dan antisemitisme dari platform mereka, dan bukan respons langsung terhadap tekanan dari anggota Kongres dan publik."

Tindakan yang dilakukan di Facebook dan Instagram melawan akun yang terkait dengan kelompok anarkis offline. Mengingat kelompok itu mendukung tindakan kekerasan di tengah protes serya organisasi milisi yang berbasis di AS dan QAnon, menurut posting blog tersebut.

Sebelumnya, jaringan sosial terkemuka itu juga melarang iklan yang memuji, mendukung, atau mewakili gerakan sosial militer dan QAnon.

Facebook pada Agustus menghapus ratusan grup yang terkait dengan QAnon dan memberlakukan pembatasan pada hampir 2.000 lainnya sebagai bagian dari tindakan keras untuk memicu kekerasan.

Kritikus menuduh bahwa konten yang menghasut dari QAnon menyebar di Facebook meskipun platform tersebut menyatakan upaya untuk menahannya.(AFP/Van/OL-09)

BERITA TERKAIT