07 October 2020, 12:45 WIB

Jamur, Sumber Protein Nabati untuk Ketahanan Pangan Saat Pandemi


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

BELUM banyak yang tahu jika jamur pangan merupakan salah satu sumber protein nabati yang mampu mendukung ketahanan pangan khususnya di masa pandemi covid-19.

Peneliti jamur pangan dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iwan Saskiawan mengatakan jamur mengandung sembilan asam amino esensial yang juga terdapat pada protein hewani.

Contoh kandungan protein pada beberapa jenis jamur pangan seperti tiram putih mencapai 3,22%, tiram merah 2,6%, tiram cokelat 1,24%, tiram kuning 1,88%, jamur kuping 1,38%, jamur merang 3,92% dan jamur kancing 2,68%. Di samping itu, jamur pangan juga mengandung high branched chain amino acid, antioksidan, immunomodulator, serta serat yang berfungsi sebagai prebiotik dan baik untuk kesehatan.

“Dari sifat tersebut menjadikan jamur pangan dikenal sebagai pangan fungsional,” kata Iwan dalam webinar Jamur Pangan Sumber Protein Nabati di Masa Pandemi Covid-19, Rabu (7/10).

Iwan menuturkan ada enam jenis jamur pangan yang sering dikonsumsi masyarakat dan bernilai ekonomi yaitu jamur kancing, jamur tiram, jamur shitake, jamur kuping, jamur merang, dan jamur tauge atau jamur enoki.

Budidaya jamur pangan pun terbilang cukup sederhana dan tidak membutuhkan modal besar karena media tanamnya yang berasal dari limbah organik atau biomassa sering ditemukan sehari-hari seperti serbuk gergaji, jerami padi, limbah kapas, tandan kosong kelapa sawit, dan limbah aren.

“Karena jamur ini tidak mempunyai zat hijau daun atau klorofil, dia tidak bisa berfotosintesis sehingga dia menyerap makanan dari lingkungan sekitarnya atau media tumbuhnya,” jelasnya.

Baca juga: Kuatkan Imun Tubuh, Jamur Cordyceps dan Jahe Merah Diuji Klinis

Menurut Iwan, dengan karakteristik dan sifat jamur pangan yang ramah lingkungan, waktu budidaya singkat, dan teknologi sederhana, bahan makanan ini dapat mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan yakni mengakhiri kemiskinan karena dapat menyerap tenaga kerja, mengakhiri kelaparan, dan memastikan kehidupan yang sehat.

Namun, ada beberapa tantangan yang masih dihadapi ke depan yaitu rendahnya jumlah konsumsi jamur pangan per kapita per tahun yang hanya mencapai 0,18 kilogram. Sedangkan konsumsi tertinggi ada di Prancis sebanyak 4,5 kilogram dan Jepang 3,5 kilogram per kapita per tahun.

“Masih ada potensi untuk meningkatkan nilai konsumsi jamur pangan di Indonesia,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI Atit Kanti mengungkapkan Indonesia pernah menjadi negara pengekspor jamur pangan terbesar kelima di dunia.

“Tahun 2007 Indonesia pernah ekspor jamur sebnyak 18 ribu ton. Tujuan ekspor antara lain ke Jerman, Rusia, bahkan ke Tiongkok dan Jepang,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Atit berharap budidaya jamur di Indonesia bisa lebih berkembang dan sosialisasi terkait jamur pangan pada masyarakat dapat terus digencarkan.

“Saya yakin Indonesia punya kelebihan yakni iklim tropis yang tentu berbeda dengan tempat lain. Peluang jamur kita jadikan sebagai salah satu potensi protein yang murah, mudah, dan enak itu kita harus terus sosialisasikan,” pungkasnya.(OL-5)

BERITA TERKAIT