07 October 2020, 05:50 WIB

Faktor Risiko Kanker Payudara Bisa Dihitung


(Medcom.id/H-2) | Humaniora

OKTOBER diperingati sebagai Bulan Kesadaran Kanker Payudara Sedunia. Tahukah Anda bahwa faktor risiko kanker payudara bisa dihitung?

Dosen Universitas Andalas Padang Ricvan Dana Nindrea mengungkapkan itu dalam disertasinya yang berjudul Model Kalkulasi Faktor Risiko Kanker Payudara Berorientasi Machine Learning di Indonesia secara daring.

Berdasarkan hasil penelitiannya itu, model yang dihasilkan dapat membantu menentukan apakah seseorang dalam kondisi aman atau memiliki risiko kanker payudara.

“Kalkulasi risiko dengan menggunakan s c o r i n g sesungguhnya dapat membantu masyarakat agar dapat melakukan pemeriksaan rutin untuk deteksi dini kanker payudara.

Membantu pelayanan petugas kesehatan dalam menemukan orang yang berisiko terkena kanker payudara,” jelasnya saat menempuh ujian terbuka Program
Doktor FKKMK UGM, Selasa (29/9).

Apabila seseorang dalam kategori berbahaya, tindakan yang harus disegerakan ialah melakukan screening. Jika seseorang dalam perilaku pencegahan  cukup memadai, disarankan agar tetap menjaga perilakunya.

Ketika masuk kategori aman, seseorang direkomendasikan untuk mempertahankan perilaku dan menghindari faktor risiko kanker payudara.

“Agar tetap terhindar dari penyakit kanker payudara,” urai Ricvan yang dinyatakan lulus dengan predikat cum laude dan menjadi doktor ke-4.903 UGM.

Di Indonesia, kanker payudara menempati urutan teratas kanker pada perempuan. Kenaikan kasus baru kanker payudara mencapai 30,9% atau sebesar 58.256 dari 188.231 kasus.

Menurut Ricvan, masalah yang terjadi ialah keterlambatan diagnostik yang dipicu ketidaktahuan pasien (patient delay), ketidaktahuan dokter atau tenaga medis (doctor delay), atau keterlambatan rumah sakit (hospital delay).

Rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengenali risiko kanker payudara di Indonesia membuat kasus lebih banyak teridentifikasi pada stadium lanjut.

“Kondisi inilah yang menyebabkan perlu dilakukan kalkulasi faktor risiko kanker payudara, untuk membantu peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengenali risiko kanker payudara di Indonesia,” ujarnya.

Deteksi dini kanker payudara berkontribusi terhadap penurunan kematian akibat kanker payudara. Selain itu, nilai manfaat lainnya ialah mengurangi efek biaya yang besar.

Ketua Umum Cancer Information and Support Center (CISC) Aryanthi Baramuli Putri menyampaikan fase stadium dini menjadi kesempatan emas bagi pasien kanker untuk dapat sembuh dan menyelamatkan payudara melalui pemberian terapi sistemis sebelum tindakan operasi. (Medcom.id/H-2)

BERITA TERKAIT