07 October 2020, 05:10 WIB

Waspadai Pelemahan Keyakinan Konsumen


(Try/E-2) | Ekonomi

SURVEI konsumen yang dilakukan Bank Indonesia mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi menurun pada September 2020.

Penyebab utamanya ialah penurunan ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi pada enam bulan mendatang.

“Sebab perkiraan terhadap ekspansi kegiatan usaha, ketersediaan lapangan kerja, dan penghasilan ke depan yang tidak sekuat pada bulan sebelumnya meskipun berada pada level optimistis.

Sementara itu, keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini menurun, seiring keyakinan konsumen terhadap penghasilan dan pembelian barang tahan lama yang turun,” kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko melalui rilisnya, kemarin.

Hal itu tecermin dari indeks keyakinan konsumen (IKK) pada September 2020 sebesar 83,4, lebih rendah jika dibandingkan dengan 86,9 pada Agustus 2020, dan masih berada dalam zona pesimistis (dibawah 100).

Penurunan IKK pada September 2020 terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran, terutama pada responden dengan pengeluaran Rp3,1 juta-Rp4 juta per bulan dan pada seluruh kelompok usia.

Secara spasial, penurunan keyakinan konsumen pada September 2020 terjadi di 13 kota survei dengan penurunan terdalam terjadi di DKI Jakarta (-14,4 poin), diikuti Denpasar (-12,3 poin), dan Padang (-10,2 poin).

Secara triwulanan, ratarata IKK pada triwulan III-2020 sebesar 85,5, membaik dari 82,1 pada triwulan sebelumnya.

Namun, perolehan itu masih jauh lebih rendah daripada 123,2 pada triwulan yang sama tahun sebelumnya.

Pada September 2020, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini melemah dari bulan sebelumnya dan masih berada pada zona pesimistis, seiring kembali diberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa wilayah yang berdampak pada menurunnya aktivitas ekonomi dan terbatasnya penghasilan masyarakat.

Hal itu terindikasi dari indeks kondisi ekonomi (IKE) September 2020 sebesar 54,1, lebih rendah dari 55,6 pada bulan sebelumnya.

Penurunan IKE terjadi pada komponen indeks pembelian barang tahan lama dan indeks penghasilan saat ini. Secara spasial, melemahnya IKE terjadi di 8 kota dengan penurunan terdalam di Surabaya (-10 poin), diikuti DKI Jakarta (-6,7 poin) dan Banjarmasin (-6,6 poin). (Try/E-2)

BERITA TERKAIT