07 October 2020, 02:00 WIB

Belajar dari para Pemberani


Tosiani | Fokus

NOVITA Pristiani, 27, sejenak memandangi ratusan bibit lele di sebuah ember besar. Warga Desa Mondoretno, Kecamatan Bulu, Temanggung, Jawa Tengah, itu kemudian menyingkap lembaran daun kangkung yang berada di atas permukaan air.

Novita menebarkan pakan, yang langsung diserbu lele-lele kecil itu. Ada puluhan ember di halaman rumahnya. Satu per satu ember ia perlakukan serupa.

Usaha tani-ternak dengan sistem akuaponik dengan ternak lele dan tanaman kangkung dilakukan di dua lokasi rumah Novita. Satu rumah lainnya berada di Desa Danurejo, Kecamatan Kedu.

Di Mondoretno, sarjana teknik lulusan Universitas Muhammadiyah Tangerang, Banten, itu menggunakan ember besar untuk budi daya lele. Di Danurejo, ia memilih memakai bekas kotak buah.

"Kangkung yang ditanam dengan sistem akuaponik ini mendapat nutrisi dari air budi daya lele. Tidak perlu bahan kimia untuk sayuran," jelas Novita yang mengembangkan tani-ternak bersama suaminya, Zuni Susatyo.

Budi daya akuaponik dilakukan sejak Agustus. Pasangan ini sudah mendapat izin UMKM dari Pemkab Temanggung.

Sebelumnya, mereka menekuni pembuatan instalasi hidroponik, yang sudah dirintis sejak November 2018. Modal awalnya Rp5 juta. Satu instalasi dijual Rp1 juta-Rp5 juta.

Setelah melewati berbagai tantangan, instalasi hidroponik produksi mereka berkembang pesat. Hasilnya, setiap bulan, mereka bisa mengantongi Rp10 juta.

 

Eksis

Dari bisnis instalasi hidroponik, keduanya menapaki usaha ternak-tani akuaponik. "Dengan modal Rp10 juta, sejak Agustus sampai September, kami sudah memetik hasil penjualan Rp26,5 juta," tambah Novita. Menjual bibit lele tidak sulit. "Kami hanya berebut pasar dengan balai benih ikan milik pemkab."

Alhasil, pandemi pun seperti tidak terasa bagi usaha Novita. "Kerja dari rumah di masa pandemi kami manfaatkan untuk menggencarkan promosi. Banyak warga tertarik menekuni hidroponik dan akuaponik untuk menghilangkan kejenuhan, tapi bisa menghasilkan. Pasar kami semakin berkembang di masa pandemi," tegasnya.

Inspirasi masih datang dari Temanggung. Ariyati, 52, sudah menyiapkan diri untuk menghadapi masa pensiun. Guru sekolah dasar itu menekuni budi daya jamur.

"Saya mulai budi daya jamur sejak Maret tahun lalu dengan membeli peralatan budi daya dari tetangga. Hasil panen jamurnya dijual buat sayuran dan kripik. Ada juga yang untuk konsumsi sendiri," ujarnya.

Modal awal yang ia kucurkan mencapai Rp5,5 juta. Ia berguru dari seorang tetangga.

Pada panen pertama, Ariyati memetik hasil 600 kilogram. Modal yang ia keluarkan langsung tertutup karena harga jual jamur mencapai Rp9.000 per kilogram.

"Di masa pandemi, saya mengajar dari rumah. Ada banyak waktu yang dimanfaatkan untuk merawat jamur," paparnya. (N-3)

BERITA TERKAIT