07 October 2020, 01:30 WIB

Bangun Kualitas SDM, Jaga Kuantitas


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora

Pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia perlu diintegrasikan dengan pengendalian kependudukan untuk meningkatkan kualitas dan menjaga kuantitas penduduk. Pemerintah berupaya meningkatkan pertumbuhan penduduk dengan menyeimbangkan kualitas dan kuantitas.

Demikian disampaikan Deputi Bidang Pengendalian Penduduk, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dwi Listyawardani dalam webinar tentang kependudukan di Jakarta, kemarin.

"Kita ingin SDM berkualitas, tapi harus diiringi dengan pengendalian kuantitas. Selain itu, harus memiliki daya saing global, menjaga nilai-nilai keluarga, dan menjaga hubungan antargenerasi," kata Dani, sapaan Dwi Listywardani.

Menurut Dani, nilai-nilai keluarga di masyarakat harus terus dijaga di saat era globalisasi yang bisa menipiskan nilai tersebut. Sumber daya yang ada pada keluarga sangat menentukan seorang individu bisa berhasil di masa depannya.

Peningkatan kualitas SDM juga harus didampingi dengan masalah pelindungan sosial. Namun, yang harus ditekankan ialah tersedianya akses fasilitas layanan kesehatan untuk seluruh penduduk Indonesia di berbagai daerah yang memiliki demografi berbeda-beda.

Terpisah, Senior Advisor Urban Regional Development Institute Wahyu Mulyana mengatakan 56,7% penduduk Indonesia tinggal di perkotaan pada 2020. "Jumlah yang besar tersebut dihadapkan dengan tantangan kapasitas pengelolaan perkotaan dan kapasitas pemerintah daerah dalam mengelola prasarana perkotaan," kata Wahyu di Jakarta, kemarin.

Tantangan lain yakni mewujudkan pertumbuhan perkotaan yang inklusif. Menurut Wahyu, perkotaan telah menjadi kantong-kantong kemiskinan, bahkan terjadi tren kemiskinan. "Fakta menunjukkan pada 2014 terdapat 12,1% rumah tangga tinggal di permukiman kumuh dengan luas mencapai 38.431 hektare," ungkapnya.

 

Hilirisasi

Koordinator Staf Khusus Presiden RI Ari Dwipayana mengatakan bahwa Indonesia harus meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan tidak lagi mengandalkan sumber daya alam untuk membangun. "Kalau kita memiliki komitmen untuk maju, kita harus mau belajar dari negara maju lainnya. Negara harus berinvestasi kepada human capital," ujar Ari dalam kuliah umum daring kepada mahasiswa baru FISIP Universitas Sumatera Utara (USU) pada Senin (5/10).

"Inilah tantangan kita dalam mengoptimalkan SDM untuk mencapai visi Indonesia tahun 2045, yakni keluar dari negara yang berpendapatan (income) menengah menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita Rp320 juta per tahun," ujarnya.

Sementara itu, Dekan FISIP USU Muryanto Amin menggarisbawahi pentingnya peran perguruan tinggi dalam pembangunan SDM untuk mengelola bonus demografi Indonesia. "Salah satu tugas penting perguruan tinggi ialah mengelola mahasiswa agar memiliki talenta dan berkarya untuk kemajuan Indonesia. Kunci pembelajaran sumber daya manusia ialah menumbuhkembangkan trust (kepercayaan) agar memiliki akar keindonesiaan yang kuat," kata Muryanto. (PS/Ant/H-3)

BERITA TERKAIT