06 October 2020, 18:45 WIB

Peta Jalan Pendidikan Harus Relevan dengan Rencana Pembangunan


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

PENDIDIKAN merupakan proses penting dalam mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu membawa bangsa kea rah yang lebih baik. Oleh sebab itu, Guru besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Cecep Darmawan mengatakan, diperlukan grand design atau peta jalan pendidikan yang sesuai dengan visi bangsa yang tertuang dalam rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) dan rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) nasional.

“Kementerian harusnya melihat dokumen-dokumen perencanaan itu kemudian ditarik benang merahnya, sehingga goal (target) dari peta jalan itu jelas,” kata Cecep kepada Media Indonesia, Selasa (6/10).

Lebih lanjut dia menjelaskan, peta jalan pendidikan harus memiliki karakter yang visioner, minimal untuk 25 tahun ke depan. Selain berpandangan ke depan, dalam merancang peta jalan pemerintah juga perlu melihat kebelakang/mengevaluasi capaian dan kelemahan pendidikan di masa lalu.

Baca juga: Komnas Perempuan Desak DPR Masukkan RUU PKS ke Prolegnas

“Jadi jangan sampai merumuskan sesuatu yang memang kita tidak bisa menemukan jalan itu akhirnya jalan buntu. Jangan terlalu ngawang-ngawang tapi juga jangan terlalu praktis, lebih ke pemikiran filosofis. SDM pendidikan yang seperti apa yang paripurna 2045,” ujarnya.

Jika peta jalan telah terbentuk, maka nantinya sekolah dan kurikulum akan seperti mesin cetak yang mampu menghasilkan SDM yang sesuai dengan visi bangsa.

Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda mengaku peta jalan sudah menjadi agenda di Komisi X sejak periode sebelumnya karena banyak masalah yang memerlukan penanganan jangka pendek maupun jangka panjang. Saat ini pihaknya pun telah membentu Panja Peta Jalan Pendidikan agar masalah yang terkait dengan pendidikan bisa segera terurai.

“Beberapa item kami anggap kenapa perlu peta jalan misalnya soal adanya tumpang tindih tata kelola pendidikan baik yang dikelola oleh pusat maupun daerah, belum meratanya kualitas pendidikan khususnya dalam pemenuhan sarana prasarana, juga menyangkut kesejahteraan dan SDM pendidik. Di mata kita semua masih belum memenuhi relevansi tuntutan zaman. Masalah inkonsistensi kurikulum, lemahnya pengelolaan anggaran pendidikan, dan seterusnya,” tandasnya.

BERITA TERKAIT