06 October 2020, 17:15 WIB

Inilah 12 Film yang Lolos Kurasi Festival Film Indonesia 2020


Fathurrozak | Weekend


FESTIVAL Film Indonesia (FFI) tahun ini menerima 65 film yang masuk dan layak untuk mengikuti seleksi. Baik yang tayang di jaringan bioskop, tayang terbatas di komunitas, di festival, maupun tayang di OTT. 

Dari ke-65, Senin, (5/10) Komite Penjurian FFI dan tim kurator mengumumkan daftar pendek film panjang untuk penentuan nominasi-nominasi pada penyelenggaraan FFI tahun ini. Ada 12 film yang lolos kurasi, yaitu Abracadabra (Faozan Rizal), Guru-guru Gokil (Sammaria Simanjuntak), Humba Dreams (Riri Riza), Imperfect (Ernest Prakasa), Istri Orang (Dirmawan Hatta), Mekah I’m Coming (Jeihan Angga), Mountain Song (Yusuf Radjamuda), Mudik (Adriyanto Dewo), Perempuan Tanah Jahanam (Joko Anwar), Ratu Ilmu Hitam (Kimo Stamboel), Susi Susanti Love All (Sim F), dan The Science of Fictions (Yosep Anggi Noen).

“Beberapa hari lalu tim publisis FFI umumkan 65 film yang resmi mendaftar FFI. Total film yang bisa ditonton kurator ada 68 sebenarnya, tetapi yang resmi mendaftar hanya 65. Jadi kurator menonton 65 film ini, kemudian dipersempit untuk menjadi daftar yang lebih pendek, sehingga memudahkan juri wakil asosiasi-asosiasi film di Indonesia untuk menonton kembali dan memberikan nominasinya,” kata Komite Seleksi dan Penjurian FFI Nia Dinata, dalam tayangan video di Instagram dan kanal Youtube FFI, Senin, (5/10).

Tim kurator FFI terdiri dari tujuh kurator, yaitu Nungki Kusumastuti (aktris, akademisi), Tam Notosusanto (produser), Hera Diani (managing editor Magdalene.co), Prima Rusdi (penulis skenario), Makbul Mubarak (sutradara, akademisi), Rangga Wisesa (akademisi, Piala Maya), dan Leila Chudori (penulis). Ketujuh kurator telah menonton ke-65 film selama tiga bulan lebih sejak Juni.

 

Catatan

“Catatan saya sebagai pemain, banyak pemain muda muncul dan bermain dengan baik. Hanya, tahun ini belum nampak pemain yang bermain secara menonjol atau secara cemerlang. Bukan tidak ada, tetapi tidak sebanyak yang saya harapkan,” kata Nungki.

Sementara itu, kurator lain, Tam Notosusanto mencatat tahun ini kurangnya representasi anak-anak dalam film. Dari ke-65, Tom mencatat hanya muncul tiga film yang mengedepankan tokoh utama anak-anak, lalu film musikal, dan film anak tema keluarga. Ia juga menggaris bawahi, perlunya kreator dalam meriset realitas suatu dunia ke dalam film.

Hera Diani juga memberikan catatannya terkait perspektif gender dalam film-film Indonesia tahun ini. Menurutnya, masih banyak ditemukan film yang masuk dalam daftar ke-65 film kurang memiliki perspektif gender.

“Misalnya perempuan masih digambarkan hanya dua dimensi, tidak bernuansa. Masih stereotipikal, seksis, bahkan misoginis. Masih ada juga pelecehan atau kekerasan seksual, atau misalnya seperti penguntitan itu dinormalisasi ke dalam perilaku romantis. Isu-isu yang penting seperti kekerasan seksual, kerap digarap dengan agak gegabah, sampai mengecilkan isu tersebut," jelasnya. Ia pun berharap jumlah filmmaker perempuan akan lebih banyak lagi di masa mendatang sehingga bisa memberikan perspektif gender yang baik untuk film-film Indonesia. (M-1)

BERITA TERKAIT