06 October 2020, 16:27 WIB

RUU Cipta Kerja Disahkan, Sektor Properti akan Untung


Fetry Wuryasti | Ekonomi

DEWAN Perwakilan Rakyat (DPR) RI telah mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja.

Belum lama ini, Ellen May Institute mengulas saham yang diprediksi meraup untung dari pemberlakuan UU Cipta Kerja. Salah satunya, sektor properti.

Dengan disahkannya RUU Cipta Kerja, berpotensi mengundang investor masuk ke Indonesia. Sebab, ada kemudahan dalam proses perizinan. Pun, sektor konstruksi juga berpotensi terdongkrak melalui RUU Cipta Kerja.

"Kami melihat emiten konstruksi plat merah, seperti PT Wijaya Karya (WIKA), PT Pembangunan Perumahan (PTPP), PT Adhi Karya (ADHI) dan PT Waskita (WSKT), memiliki peluang lebih besar. Sebab, pengolahan bank tanah menjadi proyek strategis pemerintah. BUMN juga menjadi prioritas dalam pembangunannya," bunyi ulasan May Institute dikutip dari investing.com, Selasa (6/10).

Baca juga: DPR Percepat Pengesahan Omnibus Law Cipta Kerja

Investor diyakini akan dengan mudah menempatkan kegiatan produksi di Indonesia. Tentunya, membutuhkan ruang, baik lahan maupun gedung, untuk membangun kantor dan pabrik. Ketika pabrik dibangun di suatu daerah, kebutuhan terhadap rumah juga akan meningkat. Sebab, pekerja membutuhkan hunian di sekitar pabrik.

"Dari sektor properti, kami lebih merekomendasikan saham Bekasi Fajar Industrial Estate (BEST) dan Kawasan Industri Jababeka (KIJA) untuk trading. Kondisi properti yang masih lesu dan daya beli rendah, membuat properti belum menarik untuk investasi," lanjut May Institute.

Lembaga itu memperkirakan dampak UU Cipta Kerja baru terjadi pada 2022. Tepatnya saat ekonomi Indonesia sudah pulih dari dampak pandemi covdi-19.

Sementara itu, grup riset Maybank memproyeksikan katalis potensial dari UU Cipta Kerja terhadap emiten pengembang properti, dengan jumlah proyek tertinggi. Dalam hal ini, harga dasar yang ditetapkan untuk warga asing.

Baca juga: Soal RUU Cipta Kerja, Indef: Belum Tentu Memacu Investasi

"Menurut kami, regulasi kepemilikan asing hanya ditujukan segmen tertentu dari pasar properti. Hal itu akan menguntungkan permintaan properti secara keseluruhan dalam dua tahun ke depan," bunyi riset Maybank.

Beberapa emiten yang berpotensi terdongkrak, yaitu Ciputra Development (CTRA), Pakuwon Jati (PWON) dan Summarecon Agung (SMRA), yang memiliki eksposur tertinggi ke pembeli asing.

Dalam RUU Cipta Kerja, terdapat 11 topik yang disorot. Rinciannya, perizinan tanah, persyaratan investasi, tenaga kerjaan, kemudahan dan perlindungan UMKM. Berikut, kemudahan berusaha, dukungan riset dan inovasi, administrasi pemerintahan, hingga pengenaan sanksi. Serta, pengendalian lahan, kemudahan proyek pemerintah dan kawasan ekonomi khusus.(OL-11)

BERITA TERKAIT