06 October 2020, 15:34 WIB

Waspadai Kebakaran Hutan Lahan di Pulau Jawa


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

POTENSI kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih kemungkinan terjadi dalam periode tujuh hari ke depan di Pulau Jawa. Hal tersebut bisa terjadi meskipun kini sebagian wilayah Indonesia sudah mulai memasuki musim hujan.

"Berdasarkan Sistem Peringatan Dini dan Kebakaran Hutan BMKG yang dibuat setiap hari, pada tujuh hari ke depan ada daerah-daerah yang berpotensi karhutla seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur," kata Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachri Radjab dalam konferensi pers virtual bertajuk antisipasi pengendalian kebakaran hutan di Pulau Jawa yang digelar Kementrian LHK, Selasa (6/10).

Menurutnya, analisa dan prediksi BMKG terkait potensi kebakaran hutan dan lahan sangat dinamis karena yang dilihat adalah faktor meteorologi. Berdasarkan pantauan BMKG pada periode 6-11 Oktober terdapat potensi sangat mudah terbakar terutama untuk wilayah selatan Banten sedangkan Jawa Barat risiko berada di pesisir utara.

"Untuk Jawa Tengah daerah timur dan pesisir utara masih ada potensi mudah terjadi kebakaran dan di Yogyakarta terutama di bagian timur. Sedangkan untuk Jawa Timur melihat masih banyak daerah yang memiliki risiko karhutla seperti daerah utara," sebutnya.

BMKG memprakirakan curah hujan di wilayah Pulau Jawa pada Oktober 2020 umumnya berada pada kategori rendah sampai menengah. Pada November-Desember 2020 curah hujan umumnya pada kategori menegah dan tinggi.

"Mulai merata menghijau di Jawa pada Desember 2020. Artinya curah hujan sudah mulai tinggi di Desember dan diperkirakan akan mencapai puncak musim hujan antara Januari-Februari 2021," lanjutnya.

Dirinya juga mewaspadai fenomena La Nina di Indonesia, dimana terdapat indikasi La Nina dengan intensitas moderat dan diperkirakan akan terus berkembang sampai dengan akhir 2020.

"Perlu diwaspadai kondisi La Nina ini secara historis kita analisis berpotensi meningkatkan akumulasi curah hujan di Indonesia, bisa mencapai sekitar 40% dari rata-rata peningkatannya," pungkasnya. (Ol-14)

BERITA TERKAIT