06 October 2020, 05:00 WIB

#savenakes, Sungguh Sakit Rasanya...


(Suryani Wandari Putri Pertiwi/H-1) | Humaniora

MENGENAKAN hazmat dan alat pelindung diri lain, para dokter maupun tenaga kesehatan (nakes) rupanya masih tak aman, apalagi nyaman.

Risiko terpapar covid-19 masih membayangi mereka. Apalagi sudah ada bukti ratusan rekan mereka meninggal akibat virus jenis baru yang mematikan itu.

Namun, perasaan itu harus mereka sembunyikan rapat demi pelayanan terbaik kepada para pasien yang masih berdatangan.

“Risiko paling besar terpapar covid-19 memang bukanlah pada saat memeriksa pasien melainkan saat pergantian sif karena ada interaksi antara para nakes,” ujar dr Rica Anriz.

Menurut dokter umum, anggota IDI Cab Palembang itu, sudah ada tiga dokter di lingkuingan kerjanya yang terinfeksi dan meninggal selama pandemi ini. “Tentu ini membuat kami harus berjuang lebih keras lagi. Di sini tidak ada dokter pengganti, maka kami menambah jam kerja.”

Di rumah sakit tempat Rica bertugas, dokter terbagi atas dua pelayanan, yakni untuk pasien covid-19 dan instalasi gawat darurat . Jika ada satu dokter saja yang terpapar, yang lain harus saling backup.

Hari-hari Rica terasa makin berat saat harus menahan diri bertemu keluarga. Namun, yang paling berat dia rasakan saat ada tudingan dari pejabat negara bahwa rumah sakit
merekayasa hasil positif dari pasien diduga covid-19 guna mendapatkan bantuan sebesar Rp 200 juta dari pemerintah.

“Sakit banget rasanya dibilang seperti itu. Di sini kami lillahi ta’ala,” ujarnya.

Keadaan yang sebenarnya, terkait APD saja para dokter nakes harus iuran. Hal itulah yang mendorong Rica menyuarakan tagar #savenakes di media sosialnya. Ia
ingin masyarakat tahu dan peduli dengan apa yang telah dilakukan para nakes saat melawan covid-19.

Tagar #savenakes ini juga ramai di Twitter dan media soasial lainnya. “Dalam waktu 48 jam sudah 6 perawat meninggal dunia. Semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk mereka. #Savenakes,” tulis @anestesi_fi t_ners dalam unggahannya.

Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia Maryanto mengatakan telah meminta Menteri Kesehatan untuk diberikan perlindungan sejak awal.

Apalagi kini para nakes dihadapkan dengan penambahan 90 rumah sakit rujukan yang menandakan peningkatan kasus covid-19, sedangkan pada kenyataannya sudah kewalahan.

“#savenakes bukan karena kami lebih penting, bukan kami merasa pahlawan. akan tetapi, kami adalah benteng pertahanan terakhir menghadapi pandemi ini.

Jika kami kalah, siapa yang akan menggantikan kami di medan laga?” tulis @dpwpatelkijatim. (Suryani Wandari Putri Pertiwi/H-1)

BERITA TERKAIT