06 October 2020, 03:43 WIB

Belajar Dari Rumah, Banyak Cara Menangkal Stress


Syarief Oebaidillah | Humaniora

PANDEMI Covid-19 di Indonesia telah memengaruhi banyak aspek kehidupan, termasuk mengubah proses belajar mengajar di dunia pendidikan. Situasi tak terduga ini memang tidak mudah dan belum tahu sampai kapan akan berakhir. Banyak temuan terkait isu kesehatan mental berupa stres atau tekanan para murid mengeluh dengan banyaknya tugas yang diberikan guru.

Begitupun guru mengeluh dengan minimnya keterampilan dan persoalan teknis pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sementara banyak orangtua khususnya kalangan ibu atau emak emak yang tidak siap menumbuhkan kemandirian belajar pada anak selama belajar dari rumah (BDR).

Praktisi pendidikan yang juga dosen Psikologi pendikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Ifa Misbach mengatakan ,esungguhnya situasi pandemi saat ini sangat relevan untuk kembali ke jantung pemikiran Bapak Pendidikan, Ki Hajar Dewantara untuk “menghamba pada anak” dengan mengenali kebutuhan anak.

Dalam situasi pandemi yang terpenting adalah dunia pendidikan tetap memastikan kesejahteraan mental (wellbeing) pada murid. Begitu banyak situasi sosial yang terjadi dan bisa menjadi media pembelajaran. Ada persoalan kesehatan, persoalan fisik yang berjarak, tumbuhnya solidaritas gotong royong, dan refleksi sejauhmana dunia pendidikan telah membekali keterampilan baru pada murid untuk mampu beradaptasi pada situasi tak terduga.

"Jangan sampai siswa menjadi sakit karena overload mendapatkan beban tugas dari guru bukan sakit karena covid 19. Artinya tim guru antar pengampu mata pelajaran di sekolah harus saling berkomunikasi secara intens dalam mengukur beban tugas pada siswa, "kata Ifa

Menurutnya, di masa pandemi ini, guru dan manajemen sekolah perlu memiliki kepekaan mempertimbangkan kembali tujuan pembelajaran yang diberikan apa yang ingin dicapai siswa dan harus mempertimbangkan keberagaman terhadap keterbatasan siswa yang tidak memiliki akes internet di rumahnya.

Jangan sampai karena internet tidak ada ,maka proses pembelajaran jadi terhenti. Artinya jangan terjebak pada sarana sehingga melupakan tujuan pendidikan yaitu mengubah perilaku anak ke arah yang lebih baik.

Guna mengurangi rasa bosan yang menghinggap, Ifa berpendapat banyak pemahaman yang berkembang bahwa PJJ lebih ditekankan pada pembelajaran daring yang secara teknis tidak semua penyelenggara pendidikan dan orang tua bisa menyediakan jaringan dan kuota internet yang memadai, serta penguasaan teknologi tidak semua merata pada guru dan murid.

Di samping itu, miskonsepsi PJJ juga masih sekedar memindahkan tugas paper and pencil ke dalam bentuk digital tetapi eksplorasi potensi murid tidak tergali.

Hemat dia, yang mesti dilakukan guru adalah melakukan evaluasi ulang secara serius dan mendalam selama melakukan PJJ, yang meliputi kondisi siswa sebelum dan selama PJJ, sudah sejauh mana kemampuan berpikir siswa dalam mencerna materi pelajaran.

Berikutnya, dalam menyampaikan materi dan tugas, yang perlu dilakukan guru adalah melakukan evevaluasi tujuan memberikan tugas jangan hanya memindahkan paper dan pencil ke dalam bentuk digital, tetapi eksplorasi potensi siswa pada perubahan struktur kemampuan berpikir siswa tidak tergali. Itu keliru.

Dikatakan orangtua atau emak emak yang tidak terbiasa mendampingi anak belajar di rumah tentu ini menjadi tantangan karena orangtua juga tidak memiliki basis sebagai pedagog.

"Justru hikmah dengan adanya pandemi covid 19 adalah pendidikan itu bukan karena kendala jarak jauh seperti dikeluhkan seperti sekarang. Bila pendidikan itu belajar tentang kehidupan, maka ia harusnya dekat, sedekat anak dengan orangtua di rumah," cetusnya.

Dalam masa pandemi yang belum tahu sampai kapan berakhir, orangtua perlu menyadari kenyataan bahwa siap atau tidak siap, sekolah sudah pindah ke rumah. Yang dipersiapkan terlebih dahulu adalah mental orangtua yang tidak memiliki dasar keilmuan pedagogi, kini harus berperan sebagai pendidik.

"Jadi yang harus dikuasai terlebih dahulu oleh orangtua sebagai pendidik di rumah adalah kemampuan meregulasi emosi, dimana orangtua berlatih jadi pelatih emosi agar ketika anak bosan atau uring-uringan orangtua tidak terpancing emosi sehingga tetap dapat tenang berinteraksi dengan anak. Rasa bosan dan uring-uringan pada anak sangat wajar terjadi karena memang masanya bermain dan berinteraksi dengan teman sebaya, "

Dikatakan para orangtua dan guru punya tantangan sebagai pengubah perilaku pada anak agar memiliki kemampuan belajar mandiri dalam menetapkan target tanpa paksaan orang dewasa. Orangtua perlu berperan sebagai teman diskusi apa saja, tidak perlu terkait melulu dengan tugas akademik di sekolah.

Untuk guru, perlu diingat bahwa keliru bila di masa covid-19 atau pun sesudah covid-19 ini berlalu, ini kita sibuk dengan sarana, tapi lupa tujuan pendidikan, yaitu mendekatkan anak-anak dengan konteks lokal kehidupan dengan media apapun yang sehari-hari ada di rumah

Lebih lanjut , Ifa menjelaskan. ada banyak cara mengatasi bosan juga tidak stres selama PJJ, misalnya mengalihkan kebosanan anak dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang non-gadget agar otak memiliki kesempatan istirahat agar tidak jenuh dengan screen yang terbatas dan malah membuat malas bergerak sehingga mudah bosan.

Sejumlah aktivitas bersama orangtua atau emak emak dan anak yang bisa dilakukan antara lain karya-karya anak selama masa pandemi ini bisa di-record dalam jurnal harian dan diberi refleksi oleh anak dan berdiskusi dengan orangtua sehingga anak mendapat kesempatan belajar menulis secara merdeka apa yang menjadi ide di balik karyanya.

Aktivitas lainnya bisa melalui membersihkan rumah bersama anak untuk melatih tanggung jawab, bisa main musik, olahraga atau mengolah hobi apapun, misalnya membuat macam-macam karya.

Bagi, Encin Kuraecin Guru BK SMPN 52 Jakarta sebagai guru BK melaksanakan bimbingan kepada peserta didik secara daring melalui aplikasi WA, zoom meeting , dan menjalin komunikasi dengan pihak orang tua, sehingga orang tua tidak segan segan mengkomunikasikan kendala pelaksanaan PJJ.

Encin mencontohkan saat melakukan konseling kepada peserta didik, untuk menghilangkan rasa bosan atau jenuh mereka diberikan tugas bebas tapi berunsur mendidik. "contoh nya peserta didik mengeksplor kemampuan diri tentanta apa saja dan mengirim kegiatan yang di vidiokan seperti contohnya menyanyi , buat puisi, main musik , memasak, olah raga, senam atau dance dan lain lain, " tukasnya.(OL-7)

BERITA TERKAIT