06 October 2020, 02:48 WIB

Kontribusi Reka Cipta Membangun Desa Di Tanah Air


Syarief Oebaidillah | Humaniora

“PERJUANGAN para akademisi dan pereka cipta harus mampu terwujud dalam bentuk reka cipta yang dapat memajukan desa,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud RI, Nizam, saat menjadi Keynote Speaker pada Webinar Internasional yang diselenggarakan Tim Kerja Akselerasi Reka Cipta Ditjen Dikti, Minggu malam (4/10).

Webinar internasional yang bertajuk “Kebermanfaatan Reka Cipta di Bidang Saintek dan Sosial dalam Pembangunan Desa dan Kota” dihadiri lebih dari 600 peserta terdiri kalangan akademisi, peneliti, dan mahasiswa.

Pada kesempatan tersebut turut hadir Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud Paristiyanti Nurwardani, para narasumber yakni Professor Bidang Teknik Elektro Calpoly State University Amerika Serikat Taufik, Pengajar dan Peneliti di Bidang Perencanaan Radbound University Belanda Ary Adriansyah Samsura, Rektor Universitas Teknologi Sumbawa Nusa Tenggara Barat Chairul Hudaya. Bertindak sebagai moderator adalah Tim Kerja Akselerasi Reka Cipta Ditjen Dikti Willy Sakareza.

Nizam mengatakan, sepenggal cerita saat mengunjungi Kabupaten Sigi Sulawesi Selatan pascabencana alam gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi. Kedatangan saat itu turut serta mengunjungi beberapa desa di pelosok Kabupaten Sigi yang akses menuju ke Desa tersebut begitu sulit.

Permasalahan yang ada di desa tersebut adalah ketidaktersediaan listrik dan kekeringan akibat dampak bencana alam likuefaksi.

Baca juga : Siapkan Lulusan SMA dan SMK Hadapi Tantangan Industri 4.0

"Sehingga saat itu implementasi reka cipta yang dilakukan adalah dengan membuat micro hydro dan pompa irigasi bagi masyarakat. Reka cipta berupa micro hydro telah menjadi solusi untuk menerangi desa sehingga memudahkan aktivitas belajar mengajar dan sebagainya," paparnya.

Sedangkan reka cipta pompa irigasi menjadi solusi bagi para kelompok tani untuk mengoptimalkan produksi hasil pertaniannya.

“Hal tersebut hanyalah sepenggal cerita kecil, sedangkan masih ada 17 ribu dari 74 ribu desa di Indonesia yang masih tertinggal dan butuh sentuhan reka cipta perguruan tinggi sebagai solusi untuk menjawab permasalahannya,” ungkap Nizam.

Paristiyanti menambahkan, kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka akan mendorong transformasi pendidikan dan perekonomian Indonesia..Menurutnya, hadirnya platform Kedai Reka dapat menjadi ruang kolaborasi inovator perguruan tinggi dan industri untuk berperan dalam memajukan desa.

Melalui optimalisasi bidang saintek dan sosial, berbagai permasalah desa tentu dapat diselesaikan dengan sentuhan reka cipta. Inovator perguruan tinggi, mahasiswa, dosen, industri, dan masyarakat harus berkolaborasi menjalin langkah yang pasti. Sudah semestinya desa dan kota maju dengan adanya peran perguruan tinggi di wilayahnya.

“Saya mengapresiasi terselenggaranya webinar mengenai peran reka cipta untuk pembangunan desa, yang harapannya dapat mendorong kreativitas insan bangsa dalam membangun 74 ribu desa di Indonesia,” kata Paris.

Pada kesempatan tersebut, Taufik memaparkan prespektif akan teknologi kelistrikan dibagi menjadi dua yakni desa dan kota sesuai dengan kondisi kewilayahannya.

Teknologi kelistrikan di desa bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas pertanian beserta industri yang mendukung pengolahan dan memudahkan akses listrik di pedesaan. Sedangkan kebermanfaatan teknologi kelistrikan di kota jauh lebih berkembang yakni dalam mendukung kemudahan palayanan masyarakat.

Paradigma tentang teknologi kelistrikan dapat dilihat tidak hanya dari sekedar pengembangannya namun juga harus memahami teknologi kuncinya. Misalnya, pengembangan reka cipta portable energy box, nano hydro serta microgrid yang dapat diimplementasikan dalam skala kecil di pedesaan.

“Dalam membangun kedaulatan energi, DC Electricity dapat menjadi teknologi kelistrikan masa depan dan sangat cocok di Indonesia yang terdiri atas berbagai wilayah kepulauan,” jelas Taufik.

Selanjutnya, Ary menjelaskan perihal urgensi Social Innovation dalam proses pembangunan desa. Inovasi sering kali dikaitkan dengan perkembangan di bidang saintek dan produknya telah dipasarkan. Padahal terdapat pula inovasi sosial yang muncul sebagai wujud kolaborasi antara stakeholder yang memiliki latar belakang dan kepentingan yang berbeda, sebagai konsep baru untuk menemukan solusi atas permasalahan di masyarakat.

Co-creation merupakan suatu proses di mana stakeholder berbeda yang membawa pengetahuan dan pengalaman yang beragam guna menghasilkan pelayanan publik. Masyarakat secara bersama-sama membantu menjawab masalah yang dihadapi daerahnya, baik desa maupun kota, tak hanya melalui perencanaan tetapi juga melakukan implementasi dan melakukan pengawasan terhadap pembangunan yang terjadi.

Baca juga : DKI Bakal Tutup Kampus Abal-Abal

“Di Belanda masyarakat terlibat sejak tahapan perencanaan sampai proses pembangunan desa atau kota yang didampingi pihak profesional seperti urban community farming, local energy initiative, dan microfinance for rural community,” ungkapnya.

Lebih jauh Rektor UTS Chairul Hudaya menyebutkan bahwa perguruan tinggi harus dapat membumi, dalam arti berkontribusi nyata melalui pengetahuannya untuk membangun masyarakat sekitar.

"Sumbawa memiliki lebih dari 100 desa yang tersebar di pesisir hingga di kota besar. Sehingga dalam rangka membantu memecahkan permasalahan serta mengurangi beban kehidupan masyarakat," jelasnya.

Universitas Teknologi Sumbawa bergerak dengan slogan membumi untuk membantu memberdayakan desa yang ada di Sumbawa melalui seperangkat program yang sejalan dengan kebijakan Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar. Terdapat program MERDEKA (Membangun Desa Untuk Kesejahteraan Masyarakat) dan one village one product yang dicanangkan oleh Universitas Teknologi Sumbawa, seperti jamur tiram dan susu kuda liar.

“Universitas Teknologi Sumbawa juga memiliki indikator pengembangan desa dan sentra HaKI yang bermanfaat untuk optimalisasi teknologi pengolahan hasil pertanian serta melindungi hak kekayaan intelektual inovator,” pungkasnya.(OL-7)

BERITA TERKAIT