06 October 2020, 04:15 WIB

Hujan Turun, Bencana Datang


UL/BB/BK/LD/AS/N-2 | Nusantara

DAYA dukung lingkungan di sejumlah daerah terbukti tidak siap menghadapi musim peng­hujan. Tanah longsor, tanah bergerak, dan banjir pun tidak bisa diantisipasi.

Di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dua hari berturut-turut tanah longsor dan tanah bergerak terjadi di lima desa. Sebanyak 28 rumah terdampak dan terancam rusak.

“Pada Minggu (4/10) bencana tanah longsor terjadi di tiga desa di Kecamatan Subang. Selain menyebabkan rumah rusak, tanah bergerak juga membuat jalan penghubung desa tertimpa tanah longsor dan terputus,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Indra Bayu, kemarin.

Sehari sebelumnya, tanah longsor terjadi di Kecamatan Cilebak. Arus deras anak Sungai Citenjo meluap dan mengikis tanah di sempadan kali. Tanah sempadan setinggi 1 meter dan panjang 20 meter ambles.

“Tanah yang kering karena musim kemarau ambrol saat didera hujan deras semalam­an,” ujar Indra.

Banjir bandang dan tanah longsor juga terjadi di Desa Sukasirna, Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Sabtu (3/10). Sampai kemarin, ratusan warga sulit beraktivitas karena akses jalan tertutup material tanah longsor.

“Sebanyak 477 warga terdampak. Mereka terisolasi sehingga kegiatan ekonomi di wilayah itu tidak bisa berjalan,” ujar Kepala Desa Habib Latif.

Banjir bandang juga membuat enam jembatan rusak. Sekitar 10 hektare sawah dan kebun terendam air.

Di Jawa Tengah, hujan menyebabkan tanah longsor di lima desa di Kabupaten Banyumas. “Ke-5 desa itu berada di tiga kecamatan, yakni Gumelar, Cirahab, dan Rawalo. Longsornya masih skala kecil,” ung­kap Kepala Pelaksana Harian BPBD Titik Puji Astuti.

Ia pun mengimbau warga agar meningkatkan kewas­padaan. “Hujan mulai turun dengan intensitas cukup lebat. BPBD juga telah menyiagakan personel dan peralatan di wilayah rawan bencana.”

Saat hujan sudah datang di sejumlah daerah, warga di Kabupaten Jepara dan Pekalongan masih mengalami dampak kemarau. Mereka kesulitan meng­akses air bersih karena sumur-sumur sudah mengering.

“Kami harus mencari air hingga jarak 5 kilometer dari rumah ke wilayah desa tetangga,” kata Winarto, 45, warga Desa Blimbing, Jepara. (UL/BB/BK/LD/AS/N-2)

BERITA TERKAIT