05 October 2020, 21:17 WIB

Di Tengah Pandemi, BUMN Depo Peti Kemas Sukses Lakukan Terobosan


mediaindonesia.com | Ekonomi

PANDEMI covid-19 tak menghalangi PT Indonesian Air & Marine Supply (Airin) sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melakukan gebrakan bisnis dan membantu sektor usaha lain di Tanah Air agar tetap bergerak.

Diakui bahwa  sektor industri logistik  berdasarkan survei Badan Pusat Statitsik (BPS) pada kuartal II 2020 tercatat mengalami penurunan paling tajam atau  minus 29,22%. Namun PT Airin telah melakukan sejumlah inovasi layanan kepada perusahaan khususnya di bidang logistik dan pergudangan.

Terbaru, manajemen PT Airin juga memberikan solusi kepada BUMN lain yakni PT Barata Indonesia (Persero) untuk membantu menurunkan biaya logistik yang selama ini nilainya cukup besar.  

“Alhamdulillah PT Airin memberikan solusi bersama PT Pelindo untuk mengurangi biaya demurrage (biaya kelebihan waktu berlabuh) barang PT Barata yang cukup tinggi, hampir Rp 300 miliar,” kata Direktur Utama PT Airin, Rudolf Valintino Bey, pada Seminar Nasional Manajemen 5 (Senima) yang diadakan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) secara online, Senin (5/10).

“Ke depannya itu diharapkan tidak ada lagi, makanya PT Airin mengusulkan dengan bisnis atau regulasi pemerintah setempat untuk memanfaatkan Pusat Logistik Berikat (PLB). PT Barata menyambut baik dengan pengurusan berikat logistik ini,” ujar Rudolf.

Terobosan tersebut, kata Rudolf, mampu menghemat 70% biaya storage yang dilakukan PT Barata, sedangkan PT Airin mendapat keuntungan dari PLB.

Dari sisi regulasi, menurut Rudolf,  pemanfaatan PLB juga tidak menyalahi aturan karena sudah ada ketentuan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) khususnya Dirjen Bea dan Cukai.

“Dengan BUMN, kami sudah lakukan beberapa minggu ini,  Alhamdulillah sampai hari ini kita sudah mencapai 30% dari pendapatan PLB tersebut dilakukan oleh PT Airin,” ujar dia.

Menurut Rudolf, PLB merupakan bisnis yang sangat menarik. Bisnis ini membantu pemilik barang untuk menunda pembayaran pajak sampai barang tersebut digunakan oleh user.

Layanan tersebut juga memudahkan pelaku usaha karena bisa mengurangi biaya logistik. Dari pihak pemerintah juga diuntungkan dengan adanya penundaan pajak ini karena akan meningkatkan kinerja impor terutama di pelabuhan-pelabuhan yang dikelola Pelindo I-IV.

“Pihak pelabuhan juga diuntungkan dengan regulasi ini, karena di situ ada pendapatan storage,  pendapatan dari angkutannya, kemudian dari logistik terkait penumpukan barang yang ada di Pelabuhan Tanjung Priok,” ujar Rudolf yang ditunjuk menjadi Dirut Airin pada tahun 2015.

 PT Airin merupakan anak perusahaan PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (DKB), BUMN yang bergerak di bidang galangan kapal. Bidang usaha perusahaan ini antara lain pergudangan dan depo kontainer ekspor-impor yang berada dalam pengawasan pabean atau Bea Cukai, serta memiliki Badan Usaha Pelabuhan (BUP). 

PT Airin menjalin kerja sama strategis dengan Pelindo, PLN, Semen Indonesia, perusahaan pelayaran internasional, New Port Car Terminal 1, PT Mustika Alam Lestari, JICT (Jakarta International Container Termina) dan Terminal Petikemas Koja (Hutchinson).

“Kami manajemen baru masuk 2015, saat itu Airin masih merugi, Alhamdulillah dalam tiga tahun terakhir kinerja perusahaan meningkat pesat dan membukukan pendapatan dan laba yang signifikan.  Pendapatan naik 374%, laba kami juga naik hampir 1.000% atau 941% dari sebelumnya rugi di masa manajemen lama,” tutur  Rudolf.

Tingkat kinerja PT Airin juga meningkat dari BB- (kurang sehat pada 2015) menjadi AA atau sehat (2016-2018) berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN.

Sejumlah terobosan yang dilakukan manajemen baru Airin dalam meningkatkan pendapatan dan laba antara lain pertama mengusulkan dan mendorong terbitnya Peraturan Menteri Perhubungan No 117 Tahun 2015 tentang Pindah Lokasi Penumpukan (PLP), yakni pemindahan barang yang melewati batas waktu penumpukan (long stay) di Pelabuhan Tanjung Priok.

Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Rosan Perkasa Roeslani mengakui bahwa tekanan terhadap industri logistik sangat besar karena movement atau perpindahan orang dibatasi selama pandemi covid-19,  termasuk juga perpindahan barang akibat melemahnya demand.

Supply-demand sekarang memang terkena dampak pandemik, tapi untuk faktor demand ini lebih sulit karena itu terpengaruh pada rasa nyaman, rasa keamanan, dan kesehatan,” tutur Rosan.

Selama ekonomi tidak tertangani dengan baik, kata Rosan, kondisi ini akan terus menjadi satu tantangan bagi dunia usaha. Banyak perusahaan saat ini lebih memilih untuk menjaga likuiditas dan cashflow. Agar bisa bertahan, pelaku bisnis sekarang harus lebih banyak kreasi dan mendorong digitalisasi.  

Sementara itu, Prof Dr Augusty Tae Ferdinand, dalam webinar tersebut banyak memaparkan soal penelitian manajemen untuk publikasi ilmiah di masa pandemi. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT