05 October 2020, 07:29 WIB

Harga Pakan Ternak Turun, Petani Jagung di Aceh Lesu


Amiruddin Abdullah Reubee | Nusantara

PETANI jagung di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh kurang bersemangat karena sejak tiga bulan terajhur harga bahan baku tepung jagung dan pakan ternak itu turun. Hal itu bepengaruh besar terhadap perekonomian mereka. Apalagi di tengah pandemi covid-19 sekarang ini. Tidak ada pendapatan lain, kecuali bergantung pada hasil produksi panen jagung atau gabah padi.

Kawasan penghasil jagung di Kabupaten Bireuen, antara lain meliputi Kecamatan Peusangan Selatan, Peusangan Siblah Krueng, Peudadada dan Kecamatan Juli. Harga  jagung kering panen di tingkat pedagang pengumpul Rp3.200 per kg (kilogram). Harga tersebut lebih rendah dari tiga bulan lalu yang mencapai Rp4.600 per kg.

"Turun harga mencapai 1.400 per kg itu cukup terasa bagi petani. Kalau terus menerus begini tentu minat mereka semakin lesu," kata Husaini MY, pedagang pengumpul gabah jagung di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Minggu (4/10).

Dikatakan Husaini, biaya produksi petani jagung setiap kali panen sekitar empat bulan mencapai Rp 6 juta per ha. Sedangkan hasil produksi berkisar 4 ton hingga 6 ton per ha.

"Kalau hasil pruduksi jagung kering panen 4 ton per ha, lalu harganya Rp3.200 per kg, sama dengan jumlahnya 12.800 ribu. Dipotong biaya produksi 6 juta, berarti keuntungan 2.800 ribu per empat bulan, " tambah Husaini.

baca juga: Melirik Lahan Potensial di Pulau Buru

Pihaknya berharap pemerintah mengontrol harga jagung di tingkat pasar pengusaha besar. Hal itu perlu untuk mencegah permainan harga. Untuk menjaga harga yang tidak merugikan petani Bulog bisa melakukan langkah-langkah strategis.

"Harus diselamatkan petani itu. Karena kalau sampai mereka mencapai titik jenuh terendah, sangat sulit memotivasi kembali," kata Tarmizi, pemerhati masalah pertanian di Aceh. (OL-3)


 

BERITA TERKAIT