05 October 2020, 05:20 WIB

Bertransaksi Aman di Tengah Pandemi


GANA BUANA | Ekonomi

KEAMANAN bertransaksi menjadi hal yang paling penting di tengah arus migrasi pelaku usaha dari offline ke online selama pandemi covid-19 dan pembatasan
sosial berskala besar (PSBB).

Apalagi, kini ancaman manipulasi psikologis (social engineering) pun tak luput membayangi. Peneliti Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony
Seno Hartono mengatakan aman dari ancaman keamanan digital dianggal penting agar tetap produktif di tengah tingginya kejahatan berbasis social engineering.

Pasalnya, beberapa kejahatan berbasis social engineering masih tetap terjadi di masa pandemi covid-19. “Sehingga memang perlu dukungan penguatan fitur
keamanan dan edukasi,” ungkapnya dalam diskusi virtual, baru-baru ini.

Tony mengatakan kejahatan dimaksud di antaranya pishing atau penipuan berkedok transfer perbankan. Kemudian, phone scams (scam kartu kredit, penipu menelepon
korban meminta one time password/OTP), SMShing (penipuan mengatakan korban menang undian), impersonation (penipuan bagi-bagi kuota internet) dan sebagainya.

“Tipe social engineering ini tidak memanfaatkan kerentanan sistem, tapi memanfaatkan kelengahan kompetensi pengguna teknologi.

Dengan semakin banyaknya pelaku usaha bermigrasi ke online, pelaku manipulasi psikis ini pun mengincar mereka,” ungkap Tony.

Menurut Tony, amat penting untuk melakukan edukasi terus-menerus dan konsisten agar para pelaku usaha pengguna teknologi memahami dan menghindari tipe penipuan seperti itu.

“Karena biasanya pelaku memang memanfaatkan kondisi psikologis calon korban,” kata dia.

Data Kaspersky mencatat ada 192.591 serangan phising terhadap usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia pada kuartal I 2020, naik dari 158.492 pada
2019 di periode sama. Peretas mengirim email terkait informasi covid-19 dalam upaya memanfaatkan potensi keingintahuan dan kepanikan pengguna teknologi.

Fitur verifikasi wajah


Terkait hal itu, perusahaan decacorn Indonesia Gojek terus memastikan keamanan digital bagi pengguna, mitra pengemudi, serta UMKM di dalam ekosistemnya.

Dari hasil riset, perusahaan penyedia  jasa transportasi itu mencatat mayoritas mitra driver (92%) menyatakan akun mitra driver mereka kini lebih aman.

Salah satunya dengan fitur verifikasi wajah. Hal sama juga dirasakan mitra merchant Gojek. Mayoritas mitra merchant Go-Food (93%) merasa aman memanfaatkan GoBiz sebagai
platform berjualan dan pembayaran nontunai.

“Keamanan jutaan mitra driver serta mitra merchant terus kami jaga. Dengan platform yang makin aman, mitra kami bisa berusaha dengan lebih tenang tanpa khawatir sisi keamanan digital,” ungkap Chief Information Security Officer (CISO) Gojek Group George Do.

Ia menjelaskan platform GoBiz untuk mitra merchant, misalnya, inovasi keamanan diberikan berupa fitur verifikasi PIN, OTP (kode rahasia one time password), dan fitur ‘Kelola Pengguna GoBiz’ untuk melindungi data pribadi usaha mitra merchant.

Go-Pay Head of IT Governance, Risk and Compliance, Information Security, Genesha Saputra menambahkan pihaknya juga melakukan edukasi digital kepada mitra pengemudi, mitra merchant, dan masyarakat melalui kanal komunikasi perusahaan dan eksternal seperti sosial media, dan berkolaborasi dengan pihak lain seperti Kemenkominfo dan Siberkreasi.

“Edukasi ini penting mengingat literasi digital masyarakat Indonesia yang masih rendah dan berbanding terbalik dengan penggunaan aplikasi digital yang kian meningkat,”
kata Ganesha. (S-3)

BERITA TERKAIT