05 October 2020, 05:45 WIB

Kanker Payudara Berisiko Bertambah


Atalya Puspa | Humaniora

KANKER payudara merupakan kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan di seluruh dunia. Di Indonesia, kenaikan kasus baru kanker payudara mencapai 30,9% atau sebesar 58.256 dari 188.231 kasus.

Ketua Umum Cancer Information and Support Center (CISC) Aryanthi Baramuli Putri mengatakan kasus kanker payudara merupakan jenis kanker yang terbanyak di Indonesia. Data Globocan 2018 menyebutkan, dari 100 ribu populasi penduduk, terdapat 42,1 kasus baru kanker payudara. Kondisi pandemi covid-19 saat ini dikhawatirkan akan menambah risiko penambahan kasus kanker payudara secara signifikan.

“Sebagai kelompok masyarakat berisiko tinggi di masa pandemi covid-19, pasien kanker, khususnya kanker payudara, memerlukan edukasi yang tepat dan benar tentang penanganan dan panduan untuk tetap menjaga kesehatan mental dan fisik,” ujarnya dalam keterangan resmi, kemarin.

Untuk meminimalkan risiko keterpaparan kanker payudara, menurut Aryanthi, perlu dukungan dari semua pihak untuk mengupayakan pelayanan kesehatan terbaik dan menciptakan kondisi yang mendukung penatalaksanaan kanker yang optimal, mulai stadium dini hingga stadium lanjut.

Stadium dini khususnya merupakan kesempatan pasien dapat sembuh, juga kesempatan untuk dapat menyelamatkan payudara melalui pemberian terapi sistemis sebelum tindakan operasi.

Ahli hematologi onkologi medis Rachman menyampaikan dalam sesi diskusi bahwa kemajuan teknologi perawatan kanker dapat membantu memberikan kesempatan bagi pasien untuk dapat mempertahankan payudara mereka melalui terapi sistemis yang diberikan sebelum tindakan operasi.
Motivasi

Selain masalah medis, penguat­an mental sangat dibutuhkan penyintas kanker untuk mendukung penyembuhan mereka. Hal itu dikemukakan Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat yang juga merupakan penyintas kanker payudara.

“Menderita kanker bukan ­khir dari segalanya. Menjadi penderita kemudian penyintas adalah kesempatan kedua yang diberikan-Nya kepada kita untuk menjadi lebih baik dan berguna,” ujarnya.

Hidup dengan tujuan, tidak menyerah, dan terus berjuang. Berjuang bukan hanya untuk penyembuhan, melainkan juga mengisi hari dan waktu dengan berbagi untuk sesama dengan terus memohon rida-Nya.

Kanker mungkin mematikan, imbuh Lestari, tetapi kanker tak boleh membunuh harapan dan cinta. “Kanker tidak boleh membuat kita kehilangan semangat, kekuatan, dan kebahagiaan dalam hidup. Kanker tidak boleh membuat kita terbebani,” katanya. Rasa tetap optimistis pada kesembuh­an harus terpelihara dengan mengupayakan terapi terbaik dan menjalani hidup dengan bahagia. (H-1)

BERITA TERKAIT