04 October 2020, 22:35 WIB

Petani Paham Kelola Kesuburan Tanah dari Sekolah Lapang


mediaindonesia.com | Nusantara

PAHAM tanah sebagai faktor utama proses budidaya lebih penting. Tempat tumbuh tegak tanaman, persediaan air, udara dan unsur hara, serta tempat hidupnya organisme yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Sejumlah petani di Desa Jawa Tongah II, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara melakukan praktik pengujian tanah di wilayah usaha tani mereka. Hasilnya? Kandungan N (nitrogen) rendah, P (kadar liat) tinggi.

Mereka kemudian mencocokkan hasil uji tanah dengan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) disilang Perangkat Uji Pupuk (PUP). Kegiatan tersebut dipandu penyuluh dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Panei di Simalungun.

Kesimpulannya? Hasil PUTS dan PUP oleh kelompok tani (Poktan) Sejati Nagori merekomendasikan pupuk NPK 300 kg dan 50 kg pupuk SP36 untuk tiap hektar.

"Sedangkan hasil pengujian unsur K atau kalium dalam tanah, diketahui kandungan K sedang. Rekomendasinya, pemakaian pupuk KCL maksimal 50 kg tiap hektar," kata Sando Sinaga, Koordinator BPP Panei.

Hasil pengujian terhadap proses penyerapan unsur hara oleh akar tanaman, diketahui derajat keasaman tanah (pH tanah) 5 hingga 6 atau agak asam, direkomendasi pemberian jerami sebanyak lima ton per hektar.

Pengetahuan tersebut diketahui oleh petani dari Poktan Sejati Nagori setelah mengikuti Sekolah Lapang (SL) Pertemuan I tentang Pengelolaan Kesuburan Tanah dengan PUTS dan PUP yang digelar oleh Program Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Project (IPDMIP) di Kabupaten Simalungun.

Kegiatan SL tersebut digelar oleh Kementerian Pertanian RI bersama IPDMIP. Sementara Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) khususnya Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan) selaku National Project Management Unit (NPMU) dari IPDMIP 2020.

Kabid Penyuluhan Simalungun, Syahril mengatakan SL dari IPDMIP mendukung upaya pemerintah kabupaten (Pemkab) mendorong pemupukan berimbang. Syahril juga mengapresiasi antusias 30 peserta SL, 15 pria dan 15 wanita, hadir sejak pukul 09:00 WIB hingga usai SL di halaman salah satu anggota Poktan Sejati Nagori.

"Kelebihan pupuk? Akibatkan tanaman padi rebah, patah dan rentan organisme pengganggu tanaman atau OPT. Produksi tidak optimal. Kalau kurang? Juga rentan OPT, memicu stunting dan produksi rendah," kata Syahril yang memantau kegiatan SL didampingi penyuluh kabupaten yakni Nurpede Sihombing, Mesdi dan Kadar Situmorang.

Upaya menambah wawasan dan pengetahuan petani tentang pupuk berimbang dan kesuburan tanah juga dilakukan IPDMIP pada 74 kabupaten di 16 provinsi yang menjadi target Program Integrasi Partisipasi Pertanian dan Manajemen Irigasi (IPDMIP).

Penyuluh pusat Kementan, Sri Wijiastuti selaku pembina penyuluhan pertanian Sumut mengatakan kegiatan SL sejalan instruksi Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo. Pasalnya, pemerintah pusat mendukung IPDMIP, menambah wawasan dan pengetahuan petani tentang kegiatan usaha tani yang baik dan tepat.

"Didukung IPDMIP, kita ingin ketahanan pangan tercapai. Indonesia bisa mandiri pangan. Pendapatan masyarakat pedesaan pun meningkat," kata Sri W mengutip Mentan.

Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi menegaskan kegiatan SL menjawab peran BPP sebagai pusat pembelajaran bagi penyuluh dan petani meningkatkan kompetensinya. "Mereka akan mampu mengidentifikasi kebutuhan unsur hara tanaman dan pupuk di wilayah binaan BPP."

Dari kegiatan SL tersebut, Sando Sinaga berharap petani binaan BPP di Kecamatan Panei menerapkan tehnologi tepat guna dan berkelanjutan, mendukung Pemkab Simalungun selaku District Project Implementation Unit (DPIU) dari IPDMIP di Sumatera Utara.

"Hasil pengujian tanah akan menjadi acuan budidaya tanaman padi pada pemupukan padi sawah di areal Demplot yang telah ditentukan. Peserta SL dapat melihat produktifitas tanaman padi dengan pemupukan sesuai hasil pengujian mereka," kata Sando Sinaga.

Kabid Syahril menambahkan pertemuan selanjutnya dilaksanakan dengan materi penyuluhan lanjutan yang relevan, sehingga pada akhir pelaksanaan SL, para petani mampu menguasai dan mengaplikasikannya.

"Hal ini terkait program pemerintah mendorong petani mandiri dan mampu menjadi agen perubahan bagi produktifitas dan kesejahteraan petani Simalungun," katanya. (Ant/OL-13)

Baca Juga: Kementan Rencanakan Bangun Food Estate di Buru

 

BERITA TERKAIT