04 October 2020, 14:22 WIB

Denny JA: Intelektual Saja Tidak Cukup untuk Memimpin Bangsa


Cahya Mulyana | Humaniora

PENDIRI Lingkaran Survei Indonesia (LSI ) Denny Januar Ali mengaku bahwa seorang pemikir saja tidak cukup dan perlu modal lain supaya dapat berkontribusi lebih bagi bangsa. Kemampuan dan kecerdasan finansial dibutuhkan supaya mandiri di ruang publik.

"Perlu tambahan kapasitas selain pemimpin juga pemikir dan enterpreuner. Kemampuan dan kecerdasan finansial juga dibutuhkan untuk mempunyai dana ekstra jika ingin aktif mandiri di ruang publik," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (3/10).

Denny mengaku sumbangsih pemikiran yang selama ini dilakukan terinspirasi dari para pendiri. Pasalnya pesan tokoh bangsa menuntunnya selain menjadi pemimpin juga aktivis, politisi, dengan kapasitas sebagai pemikir, filsuf, intelektual dan penulis.

“Saya terinspirasi oleh generasi the founding fathers seperti Soekarno, Hatta, Sutan Syahrir, dan Soetomo. Mereka itu wujud dari apa yang disebut Plato dengan philosopher king. Dalam bahasa populernya, wujud dari pemimpin pemikir, dan pemikir pemimpin," paparnya

Baca juga: Mahfud Ajak Kiai Gencarkan Kampanye Protokol Kesehatan

Jurnalis senior Satrio Arismunandar menjelaskan Denny JA adalah potret intelektual paling lengkap, dan paling kaya dimensi dalam sejarah Indonesia. Denny merupakan akademisi, penulis populer, aktivis, politikus, penyair, pengusaha, pembuat film dan spiritualis.

Dalam 20 tahun terakhir, kata dia, Denny aktif bergerak di lima bidang sekaligus. Seluruhnya dilakukan Denny secara serius hingga mendapatkan banyak prestasi.

Dalam dunia politik, Denny JA merupakan founding father konsultan politik Indonesia. Denny mengawinkan politik praktis dan ilmu pengetahuan.

"Denny menjadi konsultan politik pertama dalam sejarah dunia yang ikut memenangkan pemilu presiden empat kali berturut-turut, 2004, 2009, 2014, 2019," paparnya.

Di bidang ini, Denny mendapatkan penghargaan internasional TIME Magazine di tahun 2015, bersama Barack Obama hingga Justine Bieber. Ia memecahkan Guiness World Record bidang pendidikan politik 2018. Juga dari Twitter Inc sebagai the World Golden Tweet di 2009, no 2.

Kedua, di dunia sastra. Denny JA membawa tradisi baru puisi, yang disebutnya puisi esai. Ini gabungan puisi dan makalah ilmiah. Puisi historical fiction yang bercatatan kaki. Kini penulis puisi esai meluas tak hanya di 34 provinsi Indonesia tapi ke Asia Tenggara.

Denny juga piawai dalam berbisnis. Terbukti dari seorang aktivis kere di tahun 1980an, kini Denny menjelma menjadi pengusaha miliarder.

Selain itu, kata Satrio, Denny juga tercatat sebagai pengusaha kuliner dengan restonya, Bunga Rampai, mendapat penghargaan Adikarya 2019. 

"Sebagai penulis, Denny sudah menulis 55 judul buku. Tak nanggung pula, Denny menulis buku untuk tema yang beragam, mulai dari politik, ekonomi, psikologi, filsafat, agama, sastra hingga film," pungkasnya. (A-2)

BERITA TERKAIT