04 October 2020, 07:12 WIB

Bijak Berkampanye di Medsos dan Ajak Massa Jalankan Protokol


Cahaya Mulyana | Politik dan Hukum

PERKUMPULAN untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) menilai kampanye menggunakan media sosial (Medsos) sangat efektif dalam menjangkau pemilih. Namun, pasangan calon dan tim sukses mesti menghindari konten yang berbau suku, ras, agama dan antargolongan (SARA).

"Kampanye di medsos memang jadi pilihan untuk menjangkau pemilih di masa pandemi. Apalagi pengguna media sosial di Indonesia sangat lah besar. Selain juga biasanya relatif murah dibanding metode kampanye lain," kata Anggota Dewan Pembina Perludem Titi Anggraini kepada Media Indonesia, Minggu (4/10).

Menurut dia, kampanye di medsos juga harus dipastikan tidak menyebarkan informasi hoaks, bohong, fitnah, ataupun ujaran kebencian. Kontestan pilkada tetap harus memperhatikan koridor hukum yang berlaku untuk berkampanye di medsos.

"Itu seperti tidak melanggar larangan kampanye serta memuat edukasi politik dan bukan malah memecah belah masyarakat," urainya.

Baca juga: Ketaatan Protokol Masa Kampanye Dinilai Membaik

Beri informasi yang mendidik, benar dan juga programatik. Kampanye di media sosial semestinya bukan hanya artifisial simbol-simbol semata tapi juga memuat pesan yang jelas soal tawaran program dan visi-misi calon terhadap upaya mereka membangun daerah.

"Juga program yang dapat membawa daerah keluar dari masa krisis yang sedang dihadapi saat ini akibat pandemi covid-19," tegasnya.

Selain itu kampanye di medsos juga diharapkan dimanfaatkan kandidat untuk mengedukasi pemilih soal protokol kesehatan dalam pelaksanaan pilkada.

"Sehingga, secara program kampanye bisa tersampaikan namun masyarakat juga memahami perilaku yang sesuai protokol kesehatan dalam pelaksanaan pilkada yang mereka ikuti," pungkasnya.(OL-5)

BERITA TERKAIT