03 October 2020, 19:00 WIB

Petrotekno Bantu Putra Papua Berkontribusi Untuk Negeri


Ghani Nurcahyadi | Nusantara

SEBAGAI lulusan sekolah yang tidak memiliki kemampuan khusus, Mukhlis Nabi harus menjadi seorang penjaga apotek untuk menyambung hidup. Jangankan untuk bekerja di luar Papua, berpikiran untuk dapat meraih posisi yang lebih tinggi saja sulit. 

Pemuda suku Sebyar, Teluk Bintuni, Papua Barat ini tak pernah membayangkan akan bekerja di Jakarta. Namun setelah menempuh pendidikan di Pusat Pelatihan Teknik Industri Migas (P2TIM) Teluk Bintuni, hidupnya berubah. Kini, tak hanya ahli sebagai juru ikat atau rigger, ia juga mengantongi sertifikat bertaraf internasional.

“Saya jabatan saya sebagai rigger. Sekarang itu sudah ikut proyek dari Adhi Karya. Itu pengangkatan bikin jalan tol di Bekasi, Cikunir. Dari Cikunir ada sekitar 2 bulan, setelah itu dipindahkan di ke Pancoran untuk mengerjakan stasiun,” tutur Mukhlis dalam keterangan tertulis

Di P2TIM, Mukhlis mendapatkan bimbingan dari Petrotekno selaku operator pengajar. Sekolah yang berdiri di atas lahan seluas 9.300 meter persegi itu menyediakan fasilitas belajar yang lengkap. Beberapa di antaranya kantor dan administrasi, ruang kelas, hingga alat praktik seperti Confined Space dan tangki dan Rigging Shelter.


Baca Juga:  Gubernur Babel Tinjau Rencana Pengembangan Pelabuhan Pangkal Balam


Mukhlis yang dahulu berprofesi sebagai tukang jaga obat atau penjaga apotek, kini bergelut di dunia industri. 

“Sebelum saya masuk Petrotekno awalnya saya bekerja di apotek. Menjaga obat saja. Itu juga saya masih sekolah. Alhamdulillah saya coba masuk P2TIM saya tembus. Sampai saat ini,” ujarnya.

Pendidikan yang diberikan oleh P2TIM melalui Petrotekno gratis untuk anak-anak Papua. Mereka yang lolos seleksi akan diberikan fasilitas lengkap pelatihan khusus untuk menjadi seorang yang andal di bidang industri.

Lulusan P2TIM mengantongi sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), dan dibekali sertifikasi The Engineering Construction Industry Training Board (ECITB), dan Offshore Petroleum Industry Training Organization (OPITO).

“Alhamdulillah, Petrotekno, saya enggak sadar bisa sampai di Jakarta setelah menjalani pendidikan. Akhirnya saya bisa mendapat pengalaman, saya bisa kemana-mana, meskipun hanya di Jakarta. Buat saya itu manfaat besar buat saya,”

Mukhlis bahkan masih tidak percaya bahwa ia dapat bekerja hingga di Jakarta. Meski tersemat di hatinya ingin membangun Papua, namun apa yang sudah ia peroleh sekarang sangat ia syukuri. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT