04 October 2020, 02:50 WIB

Alicia Keys dan Refleksi Diri


MI | Weekend

SETELAH ‘hiatus’ sejak 2016, Alicia Keys merilis album terbaru yang bertajuk senama dirinya, Alicia.

Seperti album sebelumnya, Here (2016), album ketujuh Keys itu juga menunjukkan individualistis yang kuat dari biduanita berusia 39 tahun itu. Jika pada Here, Keys bersuara lantang tentang sikap politisnya, pada Alicia, lagu-lagunya mengajak untuk lebih mencintai diri sendiri dan saling melihat satu sama lain.

Alicia terdiri dari 15 trek dengan tujuh musikus yang ikut berkolaborasi. Kehadiran mereka dalam album ini menjadi salah satu faktor penguat karakter dan musikalitas trek-trek Alicia.

Wasted Energy, trek kolaborasi Keys dan musikus asal Tanzania, Diamond Platnumz, memberikan komposisi musik yang cukup menonjol. Musik program yang diciptakan P2J dalam trek ini akan membuai telinga dengan nuansa ala reggae sejak awal trek. 

Berkat programming-nya itu, kesan bas muncul cukup tebal hingga tidak ada alas an untuk tidak bergoyang saat mendengar Wasted Energy. Kesan bas yang tebal itu juga muncul pada beberapa trek lain, seperti pada 3 Hour Drive, kolaborasinya dengan Sampha, atau Me x7 dengan rapper Thierra Wack. 

Bedanya, Me x7 memanfaatkan komposisi bas dan kibor, tanpa musik program seperti dua trek yang disebutkan di awal. Adapun komposisi tiga trek lain dialbum Alicia, yaitu Show Me Love (feat. Miguel), So Done (feat. Khalid), dan Gramercy Park, terdengar lebih ringan. Hanya dibangun dengan isian gitar, tiga nomor tersebut kontras dengan nomor yang lebih groove sebelumnya.

Vokal Keys terdengar lebih kentara saat berteman dengan bunyi senarsenar yang kering. Hanya satu nama kolaborator yang namanya sekaligus dijadikan sebagai judul lagu, Jill Scott. Ini tampak sebagai bentuk penghormatan Alicia pada musikus R&B tersebut. 

Pada nomor Jill Scott, vokal Alicia lebih terdengar seperti slow jam yang menggoda (termasuk bagian vokal la-la-la), berbalut dengan suara drum yang menonjol. Truth Without Love barangkali jadi trek dalam Alicia yang amat personal. Di situ, Keys mengungkapkan perasaannya sebagai pesohor yang acap mendapat prasangka dari orang lain.

What if I wasn’t Alicia? Would it please ya? How would I feed ya? What if to you I was just leecher? Why would I need ya?, begitu lantun Keys.


Balada Klasik ala Alicia 

Jika menyebut nama Alicia Keys, hal yang tidak bisa lepas tentu adalah sentuhan pianonya. Dalam album terbarunya yang rilis pada 18 September ini, Keys juga tidak menyingkirkan ciri khasnya tersebut.

Alicia memberi panggung balada klasik ala Alicia Keys pada nomornomor akhir. Seperti You Save Me yang berduet dengan suara Snoh Aalegra, yang menambah nyawa trek ini menjadi lebih punya nuansa himne.

Dua nomor akhir, Perfect Way To Die dan Good Job, masing-masing adalah bentuk refleksi Alicia pada insiden George Floyd yang kemudian memunculkan gelombang gerakan Black Lives Matter, juga penghargaannya pada orang-orang yang berjasa pada situasi sejak pandemi melanda.

“Tentu saja, tidak ada cara yang sempurna untuk mati. Frasa itu bahkan tidak masuk akal. Sama seperti tidak masuk akal, ada begitu banyak nyawa tidak bersalah yang seharusnya tidak diambil dari kita, karena budaya destruktif dari kekerasan polisi,” tulisnya pada Juni silam melalui akun Instagram-nya tentang Perfect Way to Die.

Sementara itu, Good Job dikemukakan Keys ditulis beberapa bulan sebelum pandemi global. Lagu tersebut dirilis pada April dan menjadi bagian dari album ketujuhnya karena menjadi lebih relevan hingga situasi saat ini.

“Cara kita semua terhubung lebih dari yang pernah kita lakukan sebelumnya. Ini adalah untuk Anda. Anda melakukan pekerjaan dengan baik!” tulis Alicia.

Lirik “.. the world needs you now. Know that you matter, matter, matter.” Dan memasukkan deretan kata “the mothers, the fathers, the teachers that reach us,” menjadi baris yang kuat sebagai pesan dan tribut untuk siapa pun yang kurang mendapat rasa terima kasih dan apresiasi atas pekerjaan mereka sejak pandemi melanda.

Secara keutuhan album, Alicia masih memainkan formula seperti yang dilakukannya pada album sebelumnya, dengan fusi berbagai genre dan nuansa musik. Adapun sebagai karya tindak lanjut dari bukunya, More Myself: A Journey (2020), yang berbicara tentang perjalanan pencarian jati diri pemenang 15 Grammy ini, Alicia punya kesan kuat sebagai upaya Keys memperdengarkan sisi-sisi dirinya yang tidak diketahui orang awam. (Jek/M-2) 

BERITA TERKAIT