04 October 2020, 00:55 WIB

Produktivitas Seniman Bandung di Era Pandemi


MI | Weekend

PADA pertengahan Agustus hingga akhir September lalu, sejumlah tautan link galeri yang memuat karya sejumlah seniman asal Bandung bermunculan di media sosial, seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan Youtube

Tampilan visual yang memperlihatkan karya seni dari tiap-tiap galeri, sanggar, dan studio ini bisa dengan mudah diakses melalui telepon seluler pintar yang terkoneksi internet. Semua kemudahan dalam melihat karya seni ini tersaji melalui gelaran Bandung Art Month (BAM) 3. 

Tanpa kehadiran fisik secara langsung, berbagai hasil racikan seniman dari Tatar Parahyangan ini bisa disaksikan meski hanya melalui layar ponsel. Penggagas BAM, Rifky Goro Effendy, menuturkan bahwa ide pameran ini muncul karena keinginannya untuk menjaga rasa kewarasan, semangat, dan optimisme bagi pelaku seni di Bandung. 

Untuk itu, diperlukan ekosistem seni yang di dalamnya melibatkian semua pihak, dari pelaku seni, pengelola sanggar/galeri/studio, akademisi, masyarakat, hingga pemerintah.

Melalui ajang seperti ini diharapkan mampu memperluas promosi hasil karya seni di tengah-tengah tingginya aktivitas masyarakat. “Jadi kita ramai-ramai mempromosikan  barengbareng, biar publik bisa mudah mengakses,” ucap Rifky.

Pada BAM 3 ini terdapat 72 acara yang menampilkan berbagai hasil karya seniman di Bandung Raya. Sejumlah acara seni yang disiarkan melalui berbagai aplikasi media sosial ini  dilakukan di sekitar 50 lokasi (galeri, sanggar, studio) berbeda.

Sebagai contoh, pertunjukan dari Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi. Tak hanya itu, ada juga pameran yang digelar di Taman Budaya Tea House, Orbital Dago, dan studio Lembang yang semuanya bisa dilihat secara virtual.

Berbagai pameran seni lainnya pun bisa disaksikan seperti pameran Online Curators Choice melalui tautan https:// bdgconnex.net/venues/curatorschoice-edankeun dan pameran Rumahmu Museummu melalui tautan https://bdgconnex.net/
venues/rumahmu-museummu.

Menurut Rifky, sedikitnya ada 200 seniman yang terlibat dalam pembuatan berbagai gelaran tersebut. “Yang ditampilkan macam-macam, terutama seni rupa. Ada lukisan, patung, batik,” paparnya.

Meski ini sudah memasuki tahun ke-3, Rifky mengakui pihaknya tidak memiliki data pasti terkait berapa jumlah karya seni yang terjual melalui ajang tersebut. “Kalau itu, kita memang belum mendata,” ucapnya.

Kata Rifky, pameran virtual ini tidak terkait pandemi virus korona . “Kami kan sudah memulainya sejak tiga tahun lalu,” ujarnya.

Namun, dia mengakui bahwa di masa pandemi ini dia bersama seniman lain jadi lebih produktif. “Karena kami kan bekerjanya memang rata-rata dari rumah, di studio, galeri masing-masing,” ujarnya. (BY/M-4)

BERITA TERKAIT