04 October 2020, 00:10 WIB

UMKM Batik Hampir Berhenti Total


Putri Rosmalia | Weekend

SEJAK penetapan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO pada 2009, pemerintah
menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. 

Sejak itu euforia masyarakat akan batik pun timbul dan kain adati ini semakin banyak digunakan. Namun, bagaimanakah sebenarnya pengaruh penetapan dari badan PBB itu terhadap industri batik di Tanah Air. 

Bagaimana pula kondisi industri batik di tengah pandemi ini? Berikut ini ialah hasil wawancara Media Indonesia dengan Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), Komarudin Kudiya:

Bagaimana kondisi usaha batik Tanah Air di tengah pandemi?
Setelah pandemi sekitar 7 bulan ini, penurunannya sangat drastis dan tragis sekali. Sebagian besar, khususnya bagi UMKM dengan skala permodalan di bawah Rp50 juta itu sudah hampir berhenti total. 

Sejak Mei, sudah mulai berhenti karena produk yang mereka buat tidak terjual sama sekali. Mereka mau menitipkan pada juraganjuragan batik, tapi juragannya juga tidak bisa menjual karena banyak acara besar yang terpaksa dibatalkan, seperti Inacraft, Adiwastra, Indocraft, dan lain-lain. 

Padahal, mereka sudah menyiapkan banyak stok karena bersiap pameran dan menjelang Lebaran. Itu yang hard selling, apalagi yang mengandalkan penjualan lewat jasa-jasa wisata. Tentu mereka juga terdampak parah karena pergerakan wisatawan domestik apa lagi mancanegara juga tidak ada.

Berapa perkiraan nilai kerugiannya?
Memang kalau data lengkap dan empiris tidak ada karena belum ada yang mencatat dan pandemi juga masih terus berjalan. Namun, berdasarkan pengamatan yang dilakukan pengurus APPBI yang berada di Cirebon, Pekalongan, Surakarta, Lasem, dan Surabaya, saat ini di daerah mereka rata-rata pendapatan pengusaha dan perajin batik maksimal hanya mencapai 30% jika dibandingkan dengan situasi normal.

Jadi kalau misalnya yang biasanya sebulan dapat Rp100 juta, sekarang bisa dapat Rp30 juta saja sudah bagus sekali, sulit kondisinya. Bahkan, ada yang hanya 10% karena tidak ada wisatawan domestik yang berkunjung bagi yang usahanya lewat sentra-sentra wisata.

Yang gulung tikar berapa banyak?
Sekali lagi data empiris dari APPBI, Yayasan Batik Indonesia, bahkan dari Dinas Perindag belum ada. Namun, dari pengamatan lapangan, sudah hampir lebih dari 50% yang tutup usaha. Ada yang beralih profesi menjual buah-buahan dan makanan. 

Salah satunya para perajin batik dari Desa Kalitengah, Kabupaten Cirebon. Ada juga yang menjadi pekerja di usaha lainnya seperti kuli bangunan dan menjadi pembuat rotan atau mebel. Di kota-kota lain juga banyak yang seperti itu. 

Saya saja di usaha saya Batik Komar, sebelumnya pekerja ada lebih dari 200 orang, sekarang sudah tinggal di bawah 100 orang. 

Lalu, upaya APPBI untuk membantu para pengusaha yang kesulitan bagaimana?
Kami sekarang gencar sekali bermitra dengan komunitas-komunitas ibu-ibu. Kami membuatkan katalog yang kami kumpulkan dari perajin-perajin batik seluruh Indonesia di bawah naungan APPBI.

Kami pasarkan di sana. Kami rutin membuat webi nar soal batik yang kemudian anggotanya kami maintenance dan kami bisa menjual produk-produk batik di sana. Kami juga sedang menyiapkan website untuk menjual produk-produk batik dari para perajin atau UKM seluruh Indonesia yang kami kurasi nantinya lewat wastra.id

Kami intinya tidak berhenti memutar otak agar usaha batik ini terus berjalan. Kami pasarkan ke komunitas sosialita, ke departemen-departemen, dan lain-lain. Ibaratnya kami berusaha membuka jalannya agar produk-produk batik tetap terjual.

Bagaimana gambaran penjualan batik di Tanah Air apakah lewat penjualan langsung atau memang butuh lewat wisata belanja?
Sebagian besar masih menggunakan hard selling atau penjualan langsung melalui toko, galeri, jongko batik, dan showroom
batik. 

Masih sangat sedikit yang menggunakan penjualan daring. Sementara ini, penjualan daring batik yang paling banyak ialah mereka tidak menjual kualitas batik, tetapi tekstil bercorak batik atau kain printing bercorak batik. Kain tekstil bercorak batik tersebut secara proses tidak menggunakan lilin panas sebagai perintang warna, tetapi menggunakan pigmen warna dengan corak-corak batik. Jadi sebenarnya bukan batik.

Banyak orang beralasan memilik batik print yang padahal bukan batik karena batik cap maupun tulis mahal. Mungkinkah memproduksi batik asli dengan harga murah?
Masih banyak yang berpikir batik asli itu mahal. Padahal harus ditegaskan ya bahwa batik itu tidak mahal. Batik tulis dari Cirebon, Pekalongan, Madura, Pamekasan, atau Lasem misalnya, hanya dengan Rp300 ribu itu sudah bisa mendapatkan batik tulisan yang bagus. 

Sementara itu, kadang banyak orang belanja produk tekstil bercorak batik harganya di atas itu. Itu karena mereka enggan mencari tahu apakah itu batik asli atau bukan.

Dari kondisi itu, menurut Anda apakah status dari UNESCO ada dampaknya bagi penghargaan masyarakat soal batik?
Kalau dampak tentu ada peningkatan minat masyarakat terhadap batik setelah ada pengakuan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Namun, dampak lebih besar terasa setelah sempat ada pengakuan batik oleh Malaysia. 

Euforianya sangat dirasa para pengusaha batik. Peningkatan permintaan terhadap batik tulisan dan cap memang juga meningkat, tetapi tetap rasanya lebih besar masyarakat yang menggunakan batik printing. Jadi kalau apakah setelah ada pengakuan UNESCO lalu masyarakat memahami batik dengan baik, ya tidak juga. Masih tetap dibutuhkan perjuangan untuk menyuarakan soal penggunaan batik tulis dan cap hingga saat ini.

Bagaimana soal regenerasi perajin batik di Tanah Air?
Membahas ini rasanya ingin meneteskan air mata. Renegerasi perajin batik itu sebelum pandemi saja sudah sangat susah. Di desa-desa itu sangat minim anak muda yang mau menjadi pembatik.
 
Jumlah perajin batik seluruh Indonesia, menurut data kami, itu ada sekitar 140 ribu pembatik terampil. Dari total itu yang berusia di bawah 40 tahun hanya sekitar 30% (sekitar 42 ribu orang). Sementara itu, yang berusia di bawah 30 tahun hanya sekitar 10% (sekitar 14 ribu orang) dari total semua perajin batik yang ada di seluruh Indonesia.

APPBI berupaya meregenerasi dengan mencari anak-anak muda yang tidak memiliki pekerjaan. Kami ajak mereka untuk belajar membatik dan bekerja di usahausaha pembuatan batik. Sempat kemarin ini mulai banyak akhirnya anak muda yang mulai belajar dan bisa membatik, tapi kemudian ada pandemi, mereka jadi terpaksa berhenti membatik dan beralih bekerja ke bidang lain. Ada yang bekerja di pabrikparbik tahu, pabrik rotan, dan lain-lain.

Jika regenerasi saja sulit, bagaimana dengan pelestarian motif? Banyakkah yang punah?
Sepertinya banyak bila kita serius untuk mencarinya. Salah satu contohnya batikbatik Keraton Cirebon yang di pasaran hanya sekitar 30 yang masih umum dibuat masyarakat Cirebon.  Setelah saya melakukan riset dan pembuatan disertasi, ternyata masih ada 40 motif lama Keraton Cirebon yang sudah tak dikerjakan pembatik sekarang. Langkah penyelamatannya ialah dengan dilakukan revitalisasi batik-batik lama. 

Mulai proses pencarian, pengumpulan, rekonstruksi motif, hingga produksi batiknya, kemudian sosialisasi batik-batik lama tersebut. Kami juga menyurvei dan observasi untuk membuat desain baru batik-batik. 

Itu kami rutin melakukan studi refrensi untuk mencari inspirasi apa yang disenangi masyarakat khususnya anak muda. Motif dan variasinya selalu ada yang diciptakan tiap-tiap perajin, tapi untuk divisi pengembangan motif memang belum ada di APPBI. (M-1)

BERITA TERKAIT