03 October 2020, 20:30 WIB

UNESCO Apresiasi Keberadaan Masker Batik


Agus Utantoro | Humaniora

UNESCO mengapresiasi para perajin batik yang pada masa pandemi covid-19 mampu bertahan. Bahkan, mereka membuka peluang-peluang baru salah satunya dengan membuat masker batik.

Dalam peringatan Hari Batik Nasional tahun ini UNESCO Jakarta bersama para pecinta dan pemerhati serta produsen/perajin batik menggelar peringatan secara daring. Peringatan ini berlangsung pada Jumat (2/10) petang yang menghubungkan beberapa kota di Indonesia, termasuk Yogyakarta.

Dalam rilisnya yang diterima Media Indonesia di Yogyakarta, Director and Representatives of UNESCO Jakarta, Prof Shahbaz Khan, mengatakan warisan budaya tak benda seperti batik selain membutuhkan upaya konservasi teknis dari para ahli berikut kajian ilmiahnya, juga upaya manusia sekelilingnya untuk bisa terus lestari. Salah satunya terkait keberadaan masker batik.

Dari para praktisi yang punya kemampuan dan pengetahuan, generasi muda yang belajar mewarisi pengetahuan tersebut dan akhirnya kalangan masyarakat luas yang menghargai warisan budaya itu mendukung upaya alih pengetahuan antargenerasinya.

"Saya berharap melalui Perayaan Hari Batik ini, Indonesia bisa terus bersama melestarikan warisan budaya," jelasnya.

Arkeolog Universitas Gadjah Mada DS Nugrahani mengungkapkan batik sebenarnya media untuk menyampaikan pesan dari si pembuat kepada masyarakat luas. Dari aspek motifnya, katanya, batik juga semakin berkembang. Ia mengungkap contoh pada motif klasik truntum yang berkembang dengan dikombinasikan motif lain, seperti motif parang, atau motif dari relief candi. (OL-14)

BERITA TERKAIT