03 October 2020, 18:39 WIB

Bunaken dan Titik-Titik Selam Nusantara Dibuka, Ini Protokolnya


Iis Zatnika | Ekonomi

PELAKU usaha wisata selam telah membuka kembali kegiatannya sejak awal September 2020 berbekal Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan (CHSE) yang dikeluarkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). 

Panduan yang berwujud buku serta digital itu diharapkan akan memberikan angin segar bagi industri wisata selam yang sejak pemberlakuan status bencana nonalam ketika Indonesia dan dunia dilanda pandemi covid-19, telah terhenti operasinya.

"Sejak Maret kami sudah tak terima tamu dan hingga kini masih berjuang keras, mungkin ada yang bertahan atau sebaliknya. Namun dengan panduan ini minimal sudah ada pergerakan dan baik pelaku usaha maupun tamu sekarang teryakinkan bahwa sudah ada regulasi dan perlahan sesuai situasi di daerah dan kesiapan masing-masing pihak, kegiatan sudah kembali bisa dijalankan," ujar anggota tim penyusun CHSE Usaha Wisata Selam Kemenparekraf yang juga pengelola jaringan jasa pelayanan selam Padi, Daniel Abimanju Carnadie usai berbicara dalam acara sosialisasi di Manado, Sulawesi Utara, Jumat (2/10). 

Selain kondisi Indonesia yang tengah bergelut dengan covid-19, situasi global yang juga sangat terdampak, membuat industri wisata selam kesulitan.

Staf Khusus Menteri Bidang Digital dan Industri Kreatif, Ricky Yoseph Pesik, yang juga berbicara dalam acara itu menjelaskan, penerbangan yang sangat terbatas membuat pangsa pasar utama industri selam Indonesia yaitu Eropa dan Amerika Serikat serta negara-negara lainnya tak lagi mengisi pendaftaran dan pemesanan jasa selam secara daging, seperti yang biasanya mereka lakukan. 

"Pasar kita itu 90% asing sehingga mereka saat ini menunggu kepastian penerbangan dan juga tentunya jaminan keamanan dan kesehatan sehingga buku panduan ini sangat berguna. Kalau soal di masa transisi ini biaya jadi lebih mahal, sebenarnya sebagian besar penyelam itu tak terlalu sensitif pada harga," ujar Pesik. 

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sulawesi Utara Henry Kaitjily mengungkapkan,  guna menghidupkan kembali titik-titik selam yang tersebar di wilayahnya, dan menjadi andalan karena tingginya nilai yang dikeluarkan turis yang menyelam, pihaknya telah mengadakan program Discover New Bunaken yaitu lomba foto bawah air. Peserta berjumlah 53 orang dan akan dilakukan di lokasi-lokasi selam lainnya sebagai penanda munculnya kembali gairah industri selam sekaligus mengabarkan kesiapan pelaku usaha pada sasaran pasarnya. 

"Di sini kami harus sangat menjaga agar semua protokol kesehatan dan keselamatan dipenuhi karena sekali saja ada kesalahan dan masuk ke media sosial, akan merusak seluruh usaha yang dilakukan," ujar Henry. 

Kabar baiknya,  tambah Daniel, pelaku usaha selam telah terbiasa memenuhi berbagai protokol keselamatan karena kegiatan yang dijalankan tanpa adanya pandemi pun, sudah berisiko tinggi. 

Panduan CHSE yang disusun oleh Daniel serta para pelaku usaha selam serta pihak-pihak terkait lainnya itu disusun berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No 382 tahun 2020 tentang Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat yang mengadopsi rekomendasi dari lembaga kesehatan global serta lembaga kesehatan penyelaman global DAN. Implementasi panduan ini juga memerlukan dukungan dari pihak-pihak terkait yaitu pelaku usaha dan pekerjanya,  wisatawan, pemerintah daerah serta asosiasi usaha dan profesi. 

Panduan itu di antaranya menyebutkan keharusan melakukan disinfeksi pada seluruh peralatan serta pembatasan jumlah peserta untuk memastikan ketentuan menjaga jarak terpenuhi. 

Ricky menjelaskan saat ini Kemenparekraf telah menyusun panduan CHSE di berbagai bidang usaha wisata sebagai upaya membangkitkan kembali sektor pariwisata, terutama di bidang wisata minat khusus. 

“Sekali lagi yang terpenting dari semuanya dibutuhkan kedisiplinan dari para pelaku usaha wisata selam dan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan,” kata Ricky. 

Kepala Balai Taman Nasional Bunaken Farianna Prabandari, menambahkan Bunaken yang menjadi salah satu andalan wisata Sulawesi Utara juga telah dibuka. Sejauh ini pelaku usaha dan pekerja wisata snorkeling dan Selam telah menunjukkan kedisiplinan mematuhi protokol seiring tingginya harapan bahwa upaya itu bisa mengembalikan gairah usaha mereka.

"Bagi pemerintah ini juga penting karena ada pendapatan yang bisa diharapkan kembali salah satunya dari tiket seharga mulai Rp5 ribu untuk wisatawan domestik dan Rp150 ribu untuk turis asing," kata Farianna. (Zat/OL-09)

BERITA TERKAIT