03 October 2020, 15:45 WIB

Perajin Batik Gelar Festival di Kuburan Londo


Bagus Suryo | Nusantara

POPULARITAS batik kian moncer di Kota Malang, Jawa Timur. Perajin batik skala usaha mikro kecil menengah (UMKM) sudah tersebar di kampung-kampung.

Dalam promosi batik selama masa covid-19, festival batik dihelat tak mewajibkan tempat mewah, seperti hotel yang sudah umum. Pameran di kuburan pun jadi.

Para pembatik di Kota Malang membuat terobosan unik dan berani tampil beda. Mereka memperingati Hari Batik Nasional 2020 di permakaman umum, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Sabtu (3/10).

Di kawasan makam peninggalan Belanda yang melegenda dan berasitektur kolonial, para pembatik berkarya. Warga menyebut TPU itu  sebagai kuburan londo. Maklum, dulunya makam tersebut hanya diperuntukkan bagi warga Belanda dan Eropa yang tinggal di Malang. Saat ini, makam masih diaktifkan untuk permakaman warga non-muslim.

Selama festival, sejumlah pembatik beraktivitas menyelesaikan berbagai motif dengan corak dominan buah sukun. Tak begitu lama, kain putih di depan pembatik penuh dengan warna. Mereka telaten mencelupkan canting ke lilin. Goresan demi goresan memenuhi kain dasar putih. Proses pewarnaan pun dilakukan di tempat itu.

Dalam festival batik di kuburan londo menghadirkan proses lengkap membatik. Tahun ini, peringatan Hari Batik Nasional lebih bermakna.

"Ini perkawinan yang menarik, dari event festival batik dengan lokasi heritage makam," tegas Wali Kota Malang Sutiaji.

Menurut Sutiaji, festival batik ini mematahkan anggapan makam itu angker dan menyeramkan. Bagi perajin batik, kuburan londo menyimpan potensi.

Pasalnya, sampai kini, orang Belanda dan Eropa masih mengunjungi tempat itu untuk menapak tilas leluhur mereka. Potensi itu bisa mengangkat pamor karya batik lantaran wisatawan mancanegara bukan sekadar singgah, tetapi juga membeli batik buatan warga setempat.

"Hidupkan dan teruskan kreativitas di tempat ini sebagai penyangga wisata Kota Malang," imbuhnya. (OL-14)

BERITA TERKAIT