03 October 2020, 14:10 WIB

Perjuangan Penyintas Covid-19 Jalani 17 Tes Usap


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora

PENYINTAS virus korona Ara Wiraswara menceritakan pengalamannya saat terpapar covid-19. Ia mengaku sempat dibuat bingung oleh pemeriksaan swab test yang hasilnya tidak konsisten dari positif ke negatif lalu kembali positif lagi.

Ara ,begitu panggilan akrabnya, mengatakan dirinya menjalani isolasi dengan total 110 hari dan tes usap (swab) sebanyak 17 kali sebelum dinyatakan sembuh. "Total memang 110 hari kurang lebih sebelum dinyatakan negatif covid-19. Jadi empat bulan total kurang, dengan 17 kali swab test," ucap Ara dalam diskusi virtual Polemik MNC Trijaya bertajuk Sinergi Mencari Obat Covid, Sabtu (3/10).

Ara mengurutkan, saat pertama dinyatakan positif ia menjalani isolasi selama 22 hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor. Ia kemudian diizinkan pulang oleh dokter karena dianggap sudah membaik dan tidak memiliki gejala klinis meskipun saat itu masih menunjukkan positif.

"Dokter mempersilakan pulang dan melakukan isolasi mandiri di rumah dengan harapan memperoleh imun yang lebih baik karena bisa berkumpul dengan keluarga, meskipun di rumah melakukan prookol kesehatan seperti pakai masker medis serta terpisah kamar tidur dan kamar mandi," kata Ara.

Berharap segera sembuh, hasil swab Ara justru masih menunjukkan positif. Ia kemudian rutin melakukan swab test untuk mengetahui virus di tubuhnya. Ia menjelaskan di awal pandemi covid-19, kebijakan rumah sakit mengharuskan dua kali swab test dengan hasil negatif berturut-turut. Setelah itu barulah penderita dinyatakan sembuh.

Pada hasil swab test ke-11 Ara dinyatakan negatif untuk kali pertama. Hanya, pada swab test selanjutnya ia kembali dinyatakan positif.

"Saya pernah swab negatif pada Juni lalu tes lagi dinyatakan positif. Tes ke 12, 13, 14, 15 positif, baru akhirnya negatif pada tes 16 dan 17," tuturnya.

Hasil swab itu membuatnya bingung. Apalagi kejadiannya ini dialami pula oleh Wali Kota Bogor Bima Arya yang menjalani perawatan bersama.

Ia sempat menduga ketidakkonsistenan hasil swab dipengaruhi perbedaan laboratorium pemeriksaan. "Karena bukan hanya saya. Saya juga bingung mungkin bisa jadi karena berbeda laboratorum jadi berbeda," katanya.

Dinyatakan positif kembali, Ara mengaku kian terpuruk bahkan merasa terkucilkan oleh lingkungan sekitar. Ia merasa kondisi fisiknya sehat, tapi psikisnya terganggu.

"Perjuangan mental itu terasa lebih berat, merasa sendiri, dan merasa terasingkan. Yang paling sulit saat itu yakni manajemen stres. Bayangkan 3 bulan di rumah seperti tahanan. Kalaupun ke luar, ke RSUD saja untuk swab test," katanya. Ia pun menelurkan ide mendirikan Teman Lawan Covid-19. (OL-14)

BERITA TERKAIT