03 October 2020, 12:40 WIB

Pengamat: Perang Armenia-Azerbaijan Harus Segera Diakhiri


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

ARMENIA dan Azerbaijan terlibat pertempuran sengit dalam memperebutkan wilayah Nagorno-Karabakh yang hari ini, Sabtu (3/10) telah memasuki hari keenam.

Pengamat politik internasional Arya Sandhiyudha mengulas ada lima catatan utama terkait situasi ini.

"Pertama, Nagorno-Karabakh ini secara prinsip hukum internasional merupakan bagian dari territorial Azerbaijan. Namun, secara demografik etnik mayoritasnya adalah Armenia. Itulah kenapa konflik ini sudah berusia panjang dan rumit karena ada dua penggunaan logika prinsip yang berbeda, asimetrik," ujarnya dalam sebuah keterangan, Sabtu (3/10).

Baca juga: Rusia dan Turki Koordinasi Stabilkan Nagorno-Karabakh

Peraih Doktor Hubungan Internasional dari Istanbul University, Turki, menjelaskan akar konflik ini.

"Kedua, akar konflik ini berlanjut karena pasca-Uni Soviet runtuh, wilayah itu menuntut kemerdekaan dengan dukungan militer persenjataannya dari Armenia. Maka terjadilah proxy war antara Armenia dan Azerbaijan yang saling bertetangga secara geografis."

Menurut Arya, konflik Nagorno-Karabakh mesti segera disudahi karena sudah sangat banyak jatuh korban.

"Ketiga, konflik ini telah menjadi perang panjang yang menyebabkan 17 25 ribu jiwa terbunuh, 1 juta pengungsi terusir, wilayah Azerbaijan lepas, dan sanksi PBB terhadap Armenia jatuh."

Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiative (TIDI) ini juga mengatakan karena wilayah Nagorno Karabakh memiliki nilai strategis membuat konflik ini melibatkan kekuata besar di kawasan, seperti Rusia, Turki, dan Iran.

"Keempat, dalam peta hubungan luar negeri, konflik ini telah melibatkan negara-negara besar di kawasan, di antara sebabnya adalah potensi energi fosil yang luar biasa di wilayah tersebut. Ada Rusia, yang cenderung mendukung Armenia. Ada Turki, yang menggalang dukungan solidaritas dengan Azerbaijan. Selain faktor sejarah, karena ada pipa BTC Baku-Tblisi-Ceyhan yang melintas via Erzurum, untuk penyaluran energi fosil (minyak dan gas alam) antara Laut Kaspia dan Laut Mediteran. Ada Iran, yang secara domestik juga memiliki ketegangan dengan 16 juta imigran asal Azerbaijan di Iran, serta kompetisi energi fosil (minyak dan gas alam) terkait pipa BTP."

Catatan kelima, jelasnya, "Status quo Nagorno Karabakh ini membutuhkan mekanisme multilateral seperti OSCE, Organization for Security and Cooperation in Europe, untuk mencapai skenario terbaik selain perang panjang."

Arya optimistis, melihat adanya mekanisme multilateral yang masih tersedia saat ini tidak akan ada perang besar antara Armenia dan Azerbaijan.

"Negara-negara besar yang terlibat pasti dapat menemukan titik temu kepentingan mereka. Sehingga skenario paling mungkin perang parsial sejenak lalu kembali pada status quo perundingan. Efektivitas diplomasi soal Nagorno Karabakh ini sangat bergantung pada komunikasi dengan negara-negara sekitar yang punya kepentingan, dengan tetap menjaga eksistensi dan dignity kedua negara (Armenia Azerbaijan) di mata internasional," pungkasnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT