03 October 2020, 12:08 WIB

Obat Emergensi Pasien Covid-19 Siap Beredar di Indonesia


Eni Kartinah | Humaniora

KASUS jumlah orang yang terpapar dan korban meninggal akibat Covid-19 masih bertambah. Hingga Sabtu (3/10), tercatat 295.499 orang positif Covid-19, 221.340 orang sembuh, dan 10.972 orang meninggal dunia.

Untuk mencegah penularan Covid-19 dan menekan tingkat kematian pasien Covid-19, pemerintah telah melakukan berbagai upaya. Dalam upaya menekan jumlah korban meninggal terus bertambah, ketersediaan obat untuk pasien Covid-19 dilakukan.

Salah satu obat yang digunakan untuk emergensi pasien Covid-19 yang berusia dewasa dan remaja atau usia 12 tahun ke atas dengan berat badan minimal 40 kg dengan kategori berat yang dirawat inap di rumah sakit adalah Covifor yang didatangkan dari India.  

Covifor mengandung zat Remdesivir yang dapat menghambat replikasi virus. Sebelumnya, Covifor sudah digunakan antara lain untuk pengobatan infeksi virus HIV, Hepatitis B, dan Hepatitis C.

Terkait distribusi obat emergensi pasien Covid-19, Covifor, PT Parit Padang Global (PPG) resmi melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama dengan PT Amarox Pharma Global (Hetero Group), produsen salah satu obat Covid-19 Covifor (Remdesivir) di Jakarta, Jumat (2/10).

Melalui kerja sama tersebut, PPG resmi ditunjuk Amarox untuk menjadi distributor utama dalam mendistribusikan Covifor di Indonesia.

Vice President Distribution Sales & Marketing PPG, Edwin Vega Darma, mengatakan,” “Kerja sama kami dengan Amarox sudah berlangsung cukup lama, di mana kami dipercaya untuk mendistribusikan beberapa obat kanker yang diproduksi oleh Hetero India.”  

“Sebagai distributor utama, kami akan berperan untuk mendistribusikan dan menjual Covifor di Indonesia. Saat ini, PPG sudah memiliki 25 cabang di Indonesia,” ujar Edwin.

Ia juga menambahkan pendistribusian Covifor harus melalui sejumlah mekanisme. Salah satunya, Covifor hanya didistribusikan ke rumah sakit-rumah sakit rujukan Covid-19, Dinas Kesehatan, atau instansi yang memang ditunjuk oleh pemerintah.

“Hal ini karena Covifor berbentuk ampul (injeksi) yang penggunaannya harus langsung di bawah penanganan dokter,” tutur Edwin.

“Jika sebelumnya kami sudah ikut berperan dalam mendistribusikan obat saat virus SARS dan MERS melanda Indonesia, maka saat ini di kala pandemi global Covid-19 telah menjangkiti Indonesia, kami juga ingin berperan menyehatkan Indonesia dengan mendistribusikan Covifor,” paparnya.

Sementara itu, General Manager PT Amarox Pharma Global (Hetero Group) Sandeep Sur mengatakan “Kami berharap rumah sakit atau dokter dapat dengan mudah mengakses Covifor.”

“Sebab, Covifor hadir di Indonesia untuk mendukung BPJS dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam menanggulangi Covid-19,” harap Sandeep.

Ia menambahkan Hetero merupakan perusahaan pertama yang menerima persetujuan Emergency Use Authorization (EUA) untuk Remdesivir dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Indonesia.

“Covifor tidak hanya didistribusikan di Indonesia, melainkan juga sudah didistribusikan ke 126 negara di dunia, seperti di Amerika Latin, Asia, Afirka, Rusia, dan sebagainya,” tuturnya. (Nik/OL-09)

 

 

BERITA TERKAIT