03 October 2020, 10:23 WIB

Uskup Ruteng Teken MoU Masalah Geotermal Wae Sano


Gaudensius Suhardi | Nusantara

KEUSKUPAN Ruteng dan pemerintah pusat meneken nota kesepahaman (MoU) dalam menyelesaikan secara komprehensif permasalahan sosial eksplorasi panas bumi Wae Sano, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Nota kesepahaman itu diteken di Ruteng, Manggarai, Jumat (2/10), oleh Uskup Ruteng Mgr Siprianus Hormat dan Dirjen Energi Baru Terbarukan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM FX Sutijastoto.

Isi nota kesepahaman itu adalah kerja sama yang intensif untuk penyelesaian komprehensif terhadap masalah-masalah sosial yang muncul dalam rencana ekplorasi geotermal di Wae Sano.

Baca juga: Pertama dalam Sejarah, Api Abadi Mrapen Padam

Sebelumnya, Uskup Ruteng menyampaikan kecemasan dan keberatan sebagian masyarakat lokal terhadap rencana proyek tersebut.

Mereka kawatir proyek tersebut dapat membahayakan keselamatan warga dan merusak ruang kehidupan mereka, seperti tanah, lahan pertanian, air, dan danau Wae Sano beserta ekosistemnya. Rencana proyek tersebut juga telah menimbulkan ketegangan sosial di kalangan masyarakat setempat.

Berdasarkan siaran pers yang diteken Sekjen Keuskupan Ruteng Agustinus Manfred Habur dan Ida Nuryatin Finahari dari Kementerian ESDM, nota kesepahaman itu disusun untuk menjadi payung kerja sama yang mantap untuk menjawab keresahan masyarakat lokal tersebut sekaligus mencari model pembangunan geotermal yang mengedepankan aspek keamanan dan keselamatan warga lokal serta meningkatkan kesejahteraan hidup mereka.

Dalam MoU tersebut dijelaskan komitmen kedua pihak. Pemerintah berkomitmen menjaga kelestarian sosial lingkungan termasuk kelangsungan keanekaragaman hayati dan ekosistem sebagai penyangga kehidupan, keberlanjutan sosial termasuk kegiatan ekonomi dan kegiatan budaya serta situs warisan budaya termasuk sistem pertanian lingko dan/atau daerah keramat, serta kesehatan dan keselamatan masyarakat di sekitar lokasi kegiatan Penyediaan Data dan Informasi Panas Bumi di area panas bumi Wae Sano.

Untuk itu, akan dilakukan kajian tentang titik eksplorasi dan lokasi Well Pad yang sesuai dengan komitmen ini. Selain itu jua akan disusun konsep Community Development yang berbasis potensi setempat antara lain dalam rangka mendukung pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, pertanian, perkebunan, peternakan, pengembangan infrastruktur (jalan, air bersih, kesehatan, pendidikan) dalam kerja sama dengan instansi-instansi pemerintah pusat, provinsi, dan daerah.

Sementara pihak Gereja Keuskupan Ruteng berkomitmen menjadi gembala yang mengayomi semua pihak dalam rangka menemukan solusi komprehensif terhadap program pemanfaatan panas bumi di Wae Sano yang membawa manfaat bagi semua pihak.

“Memperjuangkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai dalam pembangunan holistik berkelanjutan yang mengutamakan martabat manusia dan kesejahteraan umum serta berbasis pada kearifan lokal dan ramah lingkungan,” demikian komitmen gereja.

Keuskupan Ruteng juga berkomitmen membantu pemerintah dan masyarakat dalam menemukan solusi yang tepat dan komprehensif melalui kerja sama yang transparan, jujur dan kredibel.

FX Sutijastoto menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Keuskupan Ruteng yang ikut bersama-sama dengan pemerintah mencari solusi komprehensif atas penyelesaian permasalahan geotermal Wae Sano.

Uskup Sipri pada kesempatan itu menyampaikan harapan gereja agar seluruh proses pembangunan hendaknya berpola dialog partisipatif dengan melibatkan masyarakat secara tulus dan jujur dalam proses yang transparan, obyektif dan rasional dan bertujuan untuk memperbaiki kesejahteraan hidup mereka. (OL-1)

BERITA TERKAIT