03 October 2020, 08:58 WIB

Dendam Lama Kembali Berkobar di Nagorno-Karabakh


MI/Usman Iskandar | Fokus

PERANG antara tentara Azerbaijan dan pasukan Armenia kembali berkecamuk di Nagorno-Karabakh, wilayah yang disengketakan. Setidaknya 95 orang dilaporkan tewas ketika dua negara bekas pecahan Uni Soviet itu saling serang sejak Mingu (27/9). Perebutan wilayah selama tiga dekade tersebut merupakan salah satu konflik tertua di dunia.

Nagorno-Karabakh yang terletak di perbatasan Azerbaijan dan Armenia dengan luas 4.400 kilometer persegi merupakan pemicu utama konflik kedua negara. Daerah itu merupakan wilayah pegunungan di Kaukasus Selatan yang secara internasional sebagai bagian dari Azerbaijan sejak lepas dari Republik Soviet, tetapi ditinggali mayoritas etnik Armenia. Perang pecah di awal 1990-an, sedikitnya 30 ribu orang tewas dalam pertempuran tersebut.

Meski pada 1994 Azerbaijan dan Armenia akhirnya melakukan gencatan senjata yang dimediasi Rusia, Amerika Serikat, dan Prancis, bentrokan antara kedua negara masih sering meletus. Pada 2016, terjadi pertempuran hebat yang menyebabkan sekitar 110 orang tewas di kedua belah pihak.

Dendam kesumat kedua negara kembali pecah pekan ini. Jual-beli tembakan tank dan artileri memerahkan langit Kaukasus Selatan. Otoritas Karabakh melaporkan puluhan orang tewas, di antaranya warga sipil termasuk seorang perempuan dan anaknya. Lusinan orang terluka serta ratusan orang mengungsi dan sebagian menempati bungker bawah tanah.

Atas insiden tersebut, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mengatakan kepada rakyatnya bahwa negara dalam keadaan perang dan darurat militer diberlakukan di beberapa wilayah Azerbaijan. Begitu pun Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan mengumumkan darurat militer dan memobilisasi warga laki-lakinya untuk maju ke medan pertempuran.

Bahkan, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan langsung bereaksi dengan menjanjikan dukungan Azerbaijan untuk melawan Armenia yang dianggapnya sebuah tindakan invasi dan kejam kendati Turki diduga mengincar kekayaan minyak yang dimiliki Azerbaijan. Rusia secara historis hampir pasti akan membela Armenia karena pangkalan militernya berada di pesisir negara tersebut. Sejumlah pihak mengkhawatirkan kepentingan Turki dan Rusia atas konflik di Nagorno-Karabakh akan terulang kembali seperti di Suriah, yang sampai saat ini perang masih membara.

Memanasnya konfl ik di Kaukasus Selatan meresahkan banyak negara karena dapat mengganggu pasar minyak dunia. Pasalnya, wilayah tersebut merupakan koridor pipa yang membawa minyak dan gas alam dari Laut Kaspia ke pasar dunia. Jaringan pipa yang mendistribusikan gas alam dari Azerbaijan ke dunia melewati wilayah perang Nagorno-Karabakh.

BERITA TERKAIT